misal, sehari 50rb. Cabe Bawang ga ada, penyedap ga ada, gula ga ada, belum jajan anak, tar tiba² gas abis, air galon abis, bensin abis, masak harus ada ikan dan sayur, ada yg suka ikan, telor, ayam jadi harus bikin 3 jenis masakan, 1 keluarga ada 6 atau 7 orang. dan kalo belanja bulanan cuman intinya ajh
jadi jgn heran para suami uang 50rb dengan masak alakadarnya
... Baca selengkapnyaKalau dipikir-pikir, pegang uang 50 ribu sehari itu rasanya kayak main puzzle. Semua kebutuhan harus masuk di angka segitu, tapi permintaan keluarga nggak pernah berkurang. Ada yang maunya ikan, ada yang sukanya telur, ada yang nagih ayam. Sementara di dapur, cabai, bawang merah, tomat, gula, penyedap, minyak goreng, semua wajib ada. Belum lagi gas elpiji dan air galon yang suka mendadak habis.
Aku jadi kebayang kalau dapur itu kayak mini bisnis kecil di rumah. Kalau di mini bisnis, pembagian tugasnya harus jelas biar pesanan nggak telat. Di rumah juga sama, kalau semua beban belanja, masak, dan mikir menu ditanggung satu orang, ya ujung-ujungnya capek sendiri. Menurutku, ada beberapa hal yang bisa banget diterapin, mirip kayak pilihan jawaban di soal "sebuah kelompok mini bisnis sering terlambat menyelesaikan pesanan karena pembagian tugas tidak jelas" itu.
Pertama, pembagian tugas sesuai kemampuan anggota. Di rumah, aku sekarang mulai bagi-bagi kerjaan. Misalnya, anak yang sudah agak besar bantu kupas bawang atau cuci sayur, suami bantu belanja ke warung atau isi galon, aku fokus atur menu dan masak. Ternyata ini lumayan ngebantu, soalnya aku jadi nggak sendirian mikir dari A sampai Z.
Kedua, penjadwalan kerja. Ini nggak cuma berlaku di kantor, tapi di dapur juga. Aku biasa bikin jadwal menu mingguan yang menyesuaikan budget. Misal, hari Senin telur, Selasa tempe–tahu, Rabu ayam, Kamis ikan, dan seterusnya. Sayur tinggal disesuaikan yang lagi murah di pasar. Dengan ada jadwal, aku lebih gampang ngira-ngira belanja harian, nggak gampang kalap beli ini itu.
Ketiga, mengevaluasi kelompok. Versi IRT, aku dan suami biasanya ngobrol di akhir minggu. Kira-kira uang 50 ribu per hari ini cukup nggak, apa yang sering jebol, apakah jajan anak perlu dikurangin, atau mungkin lauk hewani dikurangi frekuensinya. Bukan buat nyalahin siapa-siapa, tapi lebih ke refleksi: minggu ini boros di mana, minggu depan bisa diperbaiki bagaimana.
Keempat, menjalin komunikasi yang baik. Ini penting banget. Aku belajar buat jujur ke suami soal harga kebutuhan yang naik, soal rasanya kewalahan kalau harus masak tiga jenis lauk dalam sehari, dan soal betapa mahalnya cabai, bawang merah, dan tomat sekarang. Pas komunikasi enak, suami jadi lebih ngerti kenapa kadang masakan cuma sederhana dan nggak nuntut yang macam-macam.
Uang 5 ribu aja sekarang kadang cuma dapat segenggam cabai atau beberapa siung bawang. Jadi jangan heran kalau uang 50 ribu sehari bikin kita harus pinter-pinter atur strategi. Mulai dari bikin daftar belanja, pilih bahan yang lagi promo, sampai manfaatin stok di kulkas seefisien mungkin. Buat yang senasib, boleh banget coba trik kayak bagi tugas di rumah, bikin jadwal, dan rutin ngobrol soal keuangan. Nggak bikin masalah langsung hilang, tapi setidaknya bebannya terasa lebih ringan dan terarah.
wahh luamyaan lah kakak kakau aku 5ribu dapt kangkung seikat