Iran Tolak Tawaran Dialog Trump: “Selama Ramadan Kami Tidak Berbicara dengan Setan”
Pemerintah Iran menolak kemungkinan dialog dengan Amerika Serikat setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kesiapan untuk membuka pembicaraan dengan Teheran. Penolakan tersebut disampaikan oleh pejabat Iran yang menegaskan bahwa saat ini negosiasi dengan Washington tidak lagi masuk dalam agenda negara itu.
Dalam wawancara dengan media internasional, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak percaya lagi pada proses negosiasi dengan Amerika Serikat, terutama setelah meningkatnya konflik militer antara kedua pihak. Ia menilai pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa dialog sering kali tidak diikuti dengan perubahan sikap dari pihak Washington.
Di tengah suasana bulan suci Ramadan, sentimen publik di Iran juga memperlihatkan penolakan keras terhadap wacana perundingan. Di berbagai media sosial dan aksi dukungan di Teheran, muncul slogan yang berbunyi, “Selama Ramadan kami tidak berbicara dengan setan,” yang merujuk pada sikap permusuhan terhadap Amerika Serikat.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf turut menegaskan bahwa Iran tidak sedang mencari gencatan senjata ataupun perundingan saat ini. Menurutnya, satu-satunya cara menghadapi agresi adalah dengan menunjukkan kekuatan militer agar lawan tidak mengulangi serangan terhadap Iran.
Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya ketegangan politik dan militer antara Iran dan Amerika Serikat di tengah konflik yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah.
Sumber: Suara.com, Kaltim Post (Jawa Pos Group), Netral News.
3/12 Diedit ke
... Baca selengkapnyaSebagai seseorang yang mengikuti perkembangan konflik Timur Tengah, saya sangat tertarik dengan sikap keras Iran yang menolak dialog dengan Amerika Serikat selama bulan Ramadan. Ungkapan "Selama Ramadan kami tidak berbicara dengan setan" mengandung makna simbolis yang kuat, menegaskan bahwa Iran melihat hubungan dengan AS sebagai sesuatu yang sangat bermasalah dan berbahaya. Dari pengalaman pengamatan saya, pernyataan seperti ini bukan hanya retorika politik, tapi juga mencerminkan ketegangan emosional dan historis yang mendalam antara kedua negara.
Lebih jauh, penolakan ini juga menunjukkan bahwa Iran tidak percaya dengan niat baik AS, terutama setelah beberapa pengalaman sebelumnya di mana negosiasi tidak menghasilkan perubahan signifikan. Saya membaca beberapa laporan yang menyoroti bagaimana konflik militer dan sanksi keras dari AS kian memperburuk situasi, sehingga rakyat Iran semakin skeptis terhadap dialog.
Di bulan Ramadan yang seharusnya menjadi momen refleksi dan perdamaian, sikap tegas ini mengisyaratkan bahwa Iran memilih untuk fokus pada kekuatan militer sebagai bentuk perlindungan dan perlawanan terhadap agresi. Saya rasa hal ini juga membuka pandangan kita tentang bagaimana kondisi geopolitik dapat mempengaruhi dinamika sosial dan keagamaan di berbagai negara.
Dari sisi sosial media dan dukungan publik di Iran, slogan ini menjadi semacam seruan solidaritas untuk menolak pengaruh eksternal yang dianggap merugikan. Ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa diplomasi tidak hanya soal pembicaraan politik, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh sentimen rakyat dan identitas nasional.
Mengikuti situasi ini membuat saya sadar pentingnya memahami konteks budaya dan sejarah ketika membahas isu internasional. Penolakan Iran bukan sekadar menutup pintu dialog, tetapi juga mengirim pesan jelas bahwa solusi konflik harus melalui cara yang lebih kompleks dari sekedar pembicaraan diplomatik biasa.
Donal trum saat pidato,,panik ketika ada suara Takbir itu sama saja dengan setan kepanasan