Hari ini saya teringat kisah anak bungsu dan anak sulung. Meskipun berbeda masalah, keduanya sama-sama kehilangan hubungan yang benar dengan Bapa. Namun hati Bapa tidak pernah berubah—Ia rindu agar anak-anak-Nya kembali dan hidup sebagai saudara.
Saya percaya Tuhan sedang mengingatkan kita bahwa kita adalah satu keluarga. Bukan hanya jemaat BCM, tetapi juga orang-orang di luar sana yang belum mengenal Kristus. Banyak dari mereka hidup seperti anak yatim—mencari kasih, penerimaan, dan tujuan hidup di tempat yang salah.
Sebagai keluarga Allah, mari kita menjadi jembatan yang membawa mereka kembali kepada Bapa. Bukan dengan menghakimi, tetapi dengan mengasihi. Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui hidup yang mencerminkan kasih Kristus.
❤️ Mari rangkul mereka sebagai saudara.
❤️ Mari perkenalkan mereka kepada Bapa yang mengasihi.
❤️ Mari tunjukkan bahwa mereka memiliki rumah dalam keluarga Allah.
Dan sebelum kita membawa orang lain kepada Bapa, mari kita sendiri terlebih dahulu menikmati hadirat-Nya setiap hari. Sebab orang yang hidup dekat dengan Bapa akan lebih mudah membawa orang lain kepada-Nya.
*Kita adalah satu keluarga, dan hati Bapa selalu rindu agar setiap anak-Nya pulang ke rumah.*
🙏 Amin.
*Have a blessed day, my beloved family.* ❤️
*– Ps. Stefanus*
2 hari laluDiedit kepada
... Baca lagiDalam pengalaman saya, memahami hubungan sebagai satu keluarga dalam iman sangat mendalamkan rasa kasih dan tanggung jawab terhadap sesama. Seperti yang tertulis dalam Matius 28:19, kita dipanggil untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus, yang menuntut kita bukan hanya berbicara, tetapi juga hidup sesuai dengan kasih Allah.
Seringkali, kita menemukan banyak orang di sekitar kita yang merasa seperti anak yatim, terasing dan rindu akan kasih serta penerimaan. Menjadi jembatan kasih itu berarti menghilangkan prasangka, tidak menghakimi, dan melayani dengan hati yang tulus. Saat kita hidup dekat dengan Bapa, kita lebih mampu mengasihi dan menerima orang lain seutuhnya.
Melalui pengalaman komunitas di gereja, saya melihat bagaimana hubungan yang hangat dan sikap terbuka dapat membuat orang yang sebelumnya merasa asing dan tersisih menjadi bagian dari keluarga rohani. Ini bukan hanya tentang menjadikan mereka murid secara formal, melainkan membangun hubungan yang nyata dengan mereka, mempraktikkan nilai kasih, pengampunan, dan penerimaan sehari-hari.
Juga penting untuk menyadari bahwa sebelum membawa orang lain kepada hadirat Bapa, kita perlu memperdalam hubungan pribadi kita dengan-Nya. Waktu doa, refleksi, dan membaca firman menjadi fondasi yang memperkuat iman kita agar bisa menjadi saksi yang hidup dan memberi inspirasi bagi banyak orang.
Dengan menerapkan prinsip ini, kita tidak hanya menjadi saksi lewat kata-kata tetapi melalui tindakan nyata kasih Kristus. Ini adalah cara terbaik untuk menunjukkan bahwa setiap orang memiliki tempat dan rumah dalam keluarga Allah." Shalom dan tetaplah diberkati dalam misi mulia ini.