TRIBUNSUMSEL.COM - Nasib malang menimpa Maulida, seorang pelajar di Cilincing, Jakarta Utara harus kehilangan kedua orang tuanya dalam saat banjir melanda.
Maulida pertama kali menemukan ayah dan ibunya bernama Warno (54) dan Naning (49) meninggal di rumah mereka di Kelurahan Semper Barat pada Senin (12/1/2026).
Keduanya ditemukan meninggal dunia akibat tersetrum saat banjir melanda kawasan Jakarta.
Maulida membagikan kesaksian memilukan mengenai detik-detik kejadian tersebut.
Peristiwa nahas itu terjadi ketika Maulida tidak berada di rumah karena sekolah.
Namun, saat pulang ke rumah pukul 10.30 wib, Maulida dikejutkan melihat jasad kedua orangtuanya mengambang di rumah penuh genangan air.
"Pulang sekolah aku mau bantu-bantu beresin banjir. Pas masuk (rumah), aku pikir ada pakaian ngambang, ternyata itu papa mama udah (tergeletak)," ucap Maulida dengan suara bergetar dilansir dari YouTube TVOne, Selasa (13/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa posisi ibunya ditemukan di depan meja makan, sementara ayahnya berada di sisi samping.
Saat ditemukan, kedua orang tuanya sudah dalam kondisi tidak bergerak di tengah genangan air yang merendam bagian dalam rumah.
Dalam kondisi panik, Maulida sempat berusaha memindahkan tubuh ibunya yang posisinya lebih dekat sebelum akhirnya berlari keluar rumah untuk mencari bantuan dari warga sekitar.
"Aku kan panik ya, jadi langsung aja minggirin Mama dulu aja soalnya dekat, habis itu baru Papa minta bantuan sama orang."
Berdasarkan pemeriksaan sementara di lokasi kejadian, aliran listrik yang merenggut nyawa pasangan suami istri tersebut diduga kuat berasal dari peralatan elektronik rumah tangga yang terpapar air banjir.
"Tersengat listrik sih. Jadi kan ada kulkas, kulkasnya kayak emang nyetrum gitu. Terus kan banjir, jadi aliran listriknya merambat ke air," jelasnya.
Disisi lain, Maulida yang kini menjadi yatim piatu mengenang pesan kedua orang tuanya.
"Jangan malas sekolah sih, lebih rajin aja (pesannya)," kata Maulida.
Pengalaman Maulida ini membuka mata kita semua tentang bahaya banjir yang tidak hanya dari genangan airnya saja, tetapi juga risiko tersengat listrik akibat peralatan elektronik yang terkena air. Sebagai seseorang yang juga pernah tinggal di wilayah rawan banjir, saya menyadari pentingnya kesiapsiagaan keluarga menghadapi bencana seperti ini. Pertama, penting untuk mencabut segala peralatan listrik ketika banjir mulai masuk ke rumah. Ini bisa mencegah aliran listrik merambat melalui genangan air. Selain itu, edukasi terkait bahaya listrik saat banjir harus disebarluaskan terutama di komunitas yang sering terdampak. Saya juga pernah mengalami banjir di daerah Jakarta dan merasakan ketidaknyamanan harus tinggal sementara di pengungsian. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa solidaritas masyarakat sekitar sangat membantu dalam menghadapi bencana. Misalnya, saling membantu menyediakan kebutuhan pokok, serta perhatian pada warga yang mungkin dalam kondisi sulit seperti Maulida yang menjadi yatim piatu. Selain tindakan preventif, peran pemerintah juga sangat penting dalam hal penanggulangan banjir. Infrastruktur yang baik dan sistem peringatan dini harus terus ditingkatkan. Sedih sekali mengetahui kejadian tragis ini terjadi karena risiko-risiko yang sebenarnya bisa diminimalisir. Semoga kisah Maulida dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih waspada, peduli, dan siap menghadapi bencana alam yang semakin sering terjadi di wilayah kita, khususnya Jakarta.

innalilahi wa innailaihi rojiun semoga husnul khotimah orang tua nya ya kak🥺peluk jauh yg sabar ya kak🥲😢