Oknum guru olahraga di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, berinisial AY (37) yang ajak berkebun belasan siswanya sudah ditetapkan sebagai ters4ngka oleh polisi. Saat diperiksa, ters4ngka mengaku khilaf atas aksinya tersebut. 🥺😱
Diketahui ka5us ini terungkap setelah para siswa dan siswi Lubuklinggau, Sumatera Selatan, menggelar aksi demo di sekolah. Azwar mengatakan salah satu korb4n yakni A (17) mengaku pernah di ajak berkebun oleh ters4ngka di ruang guru. "Untuk korb4n yang melapor secara resmi baru kali ini, tapi kalau yang percobaan di ajak berkebun itu sudah lama dan orang nya berganti-ganti karena sudah lulus sekolah," Kurniawan menjelaskan modvs yang digunakan ters4ngka yakni memanfaatkan posisinya sebagai guru untuk memanggil korb4n ke ruang guru agar alasannya tidak mencurig4kan dan meng4ncam akan mengurangi nilai bila korb4n menolak.
"Saat korban berada di TKP, pelaku kemudian melakukan tind4kannya dan berpura-pura berinteraksi secara biasa, namun disertai dengan sentuhan fisik yang melanggar batas.
Selain itu pelaku didug4 meng4ncam akan menj4tuhkan nilai korb4n bila tidak menuruti keinginannya," jelasnya. ters4ngka memiliki hasr4t tergoda terhadap siswinya sendiri sehingga ia nekat melakukan berkebun terhadap mereka. "Diduga kuat pelaku memiliki motif pribadi berupa dorongan hasrat pandangan indah terhadap korb4n yang diekspresikan melalui penyalahgunaan wewenang dan kedekatan sebagai tenaga pendidik," bebernya. Kurniawan mengungkapkan saat ini sudah ada 8 korb4n yang diperiks4 polis!. Namun pihak kepolis!an masih melakukan peny3lidikan terkait korb4n lain dari aksi yang dilakukan ters4ngka tersebut. ters4ngka meng4ku khilaf atas aksi ajak berkebun yang dilakukan terhadap siswinya sendiri. Karena pelaku tidak tahan saat melihat keindahan pada muridnya.
1/26 Diedit ke
... Baca selengkapnyaKasus pelecehan yang dilakukan oleh oknum guru olahraga di Lubuklinggau memberikan gambaran penting tentang bagaimana penyalahgunaan wewenang dapat merusak kepercayaan dalam dunia pendidikan. Dalam pengalaman pribadi saya, sebagai mantan pelajar, suasana sekolah harusnya menjadi lingkungan yang aman dan nyaman untuk belajar, bukan tempat di mana guru justru mengambil keuntungan tidak pantas dari posisi mereka.
Kasus ini sekaligus mengingatkan kita akan pentingnya pembentukan mekanisme pengaduan yang mudah diakses bagi siswa. Seringkali, korban pelecehan merasa takut atau malu untuk melapor, apalagi jika pelakunya adalah sosok otoritas seperti guru. Yang saya amati, dukungan dari teman sebaya dan guru lain yang peduli sangat membantu korban untuk berani bersuara dan mengungkap kejadian tersebut.
Fenomena 'ajak berkebun' yang dilakukan pelaku sebagai modus untuk mengelabui juga menjadi tanda bahwa pelaku telah menggunakan strategi tertentu untuk memanipulasi dan mengendalikan korban secara psikologis. Sebagai seorang yang pernah berinteraksi di lingkungan sekolah, saya menilai bahwa penting untuk mengadakan pendidikan tentang hak dan batasan pribadi sejak dini agar siswa dapat mengenal dan menolak perilaku yang tidak pantas.
Selain itu, saya mengamati bahwa penegakan hukum yang tegas sangat penting agar kasus seperti ini tidak berulang. Keterbukaan dari pihak kepolisian dan sekolah dalam menangani kasus pelecehan juga harus menjadi prioritas untuk memberikan perlindungan maksimal bagi korban dan menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
Sebagai masyarakat, kita perlu bersama-sama memberikan perhatian lebih terhadap isu ini dan bersama-sama mendukung korban yang berani melapor. Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa tugas seorang pendidik bukan hanya mengajar secara akademis, tetapi juga menjaga moral dan etika dalam hubungan dengan muridnya.
herannya lagi² penampilan korban yg disalahkan padahal pelaku yg ga bisa menundukkan pandangan serta hasrat burungnya setara dengan binatang yg ga bisa kontrol nafsunya di musim kawin. Padahal skg jaman modern, manusia jauh lebih beradab dan berakal seharusnya bisa lebih mengontrol hasrat diri. Masa iya lebih beradab suku pedalaman dalam hal mengontrol hasrat dan menjaga martabat? 🤔
itu yg nyalahin korban penampilan nya mengundang, semoga ga sampai mengalami sendiri ya! Karna seandainya mereka d posisi korban, mereka akan melihat lebih luas dan lebih dalam lagi bahwa emg pelaku yg kaya binatang bahkan bagai iblis karna rata rata korban rudapaksa/pelecehan justru berpakaian sopan loh, bahkan bayi dengan romper bayinya aja bisa jd pelecehan kalau udah begitu apa iya mau salahin bayi?
bingung ya sesama perempuan tapi komennya begitu, semoga anak perempuan yang komen, ibunya dan semua saudara perempuannya mengalami hal yang sama, amiiin.
herannya lagi² penampilan korban yg disalahkan padahal pelaku yg ga bisa menundukkan pandangan serta hasrat burungnya setara dengan binatang yg ga bisa kontrol nafsunya di musim kawin. Padahal skg jaman modern, manusia jauh lebih beradab dan berakal seharusnya bisa lebih mengontrol hasrat diri. Masa iya lebih beradab suku pedalaman dalam hal mengontrol hasrat dan menjaga martabat? 🤔 itu yg nyalahin korban penampilan nya mengundang, semoga ga sampai mengalami sendiri ya! Karna seandainya mereka d posisi korban, mereka akan melihat lebih luas dan lebih dalam lagi bahwa emg pelaku yg kaya binatang bahkan bagai iblis karna rata rata korban rudapaksa/pelecehan justru berpakaian sopan loh, bahkan bayi dengan romper bayinya aja bisa jd pelecehan kalau udah begitu apa iya mau salahin bayi?