Syurga Yang Lain, part 2.
Katanya, suami kakakku orang kaya?
Orang kaya kok numpang?
Gak punya kerjaan yang jelas pula.
Mencurigakan! 🤔
Bab 2
Flashback
"Bu, aku mau ngekost aja ya deket kantor, biar deket juga setiap berangkat kerja." Ucapku pada ibu mengatakan alasanku. Ca pek, pergi pagi pulang malam, kalau lembur.
"Ngapain ngekost? Mending u angnya ditabung, ba ngun rumah sendiri di tanah kosong punya ibu, daripada sayang ga dipake apa-apa tanahnya." Ucap ibu malah menawarkan tanah kosong di sebelah rumah ibu untuk diba ngun rumah.
"Emang boleh bu aku ba ngun rumah disitu?" Tanyaku tidak percaya, ibu membolehkan begitu saja.
"Ya boleh lah, asal nanti kamu bayar ya tanah yang kamu tempatin itu. Ibu ga jual ma hal ke a nak sendiri, orang ibu juga dapet beli tanah itu, ga datang sendiri." Ucapnya lagi ternyata aku harus membeli tanah dan memba ngun rumah sendiri, u ang darimana coba? Bismillah saja mudah-mudahan ada rezekinya, buat ba ngun rumah dulu aja.
"Tapi nyicil ya bu ba yar tanahnya? Aku biar bisa ba ngun rumah dulu." Tanyaku, agar aku bisa mencicil membayar tanahnya.
"Boleh aja, nyicil sama ngasih ja tah bulanan ibu beda ya, jangan kamu ilangin ja tah ibu, dipake buat nyicil, ga ada itu." Jawabnya, padahal tanpa perlu ibu bicara seperti itu pun aku tidak akan menghilangkan ja tah bulanan ibu, untuk setiap bulan padahal ibu sudah ada gaji pensiunan ayah, walau tidak seberapa tapi setidaknya cukup untuk kebutuhan ibu sendiri. Sayangnya, kak Hanum selalu saja meminta beli ini dan itu, dan selalu ibu turuti. Hingga setelah menikah pun masih suka meminta u ang kepada ibu, padahal kak Hanum punya suami, walau entah pekerjaannya apa, karena sedari awal kak Hanum selalu bilang suaminya banyak u ang, suaminya o rang ka ya, lantas mengapa masih tinggal disini kalau suaminya o rang ka ya.
Ya Allah, mengapa aku masih suka se sak jika mengingat masa lalu bersama keluargaku? Lapangkanlah da daku agar aku bisa memaafkan keluargaku.
Bersambung..
Baca kisah selengkapnya hanya di KBMapp.
Judul : Syurga yang lain
Penulis : Putri krida
Status : sudah tamat
Dalam kehidupan keluarga, tidak jarang kita menghadapi tantangan dan dilema yang membuat kita harus mengambil keputusan sulit, seperti memilih untuk ngekost demi fokus bekerja atau memanfaatkan tanah keluarga untuk membangun rumah. Saya sendiri pernah mengalami situasi serupa dimana saya harus menimbang antara menabung dan mencari kenyamanan tinggal saat bekerja jauh dari rumah orangtua. Seperti dalam kisah ini, sang tokoh utama harus berjuang untuk mewujudkan rumah impian di tanah milik ibu, dengan cara mencicil pembayaran tanah secara bertahap. Ini mengingatkan saya bahwa memiliki tanah keluarga bisa menjadi investasi berharga yang sekaligus mempererat hubungan keluarga jika dikelola dengan komunikasi yang baik. Namun tidak mudah juga menghadapi dinamika keluarga, terutama bila ada anggota keluarga yang memiliki pandangan atau kebiasaan berbeda, bahkan terkadang membuat kita merasa terbebani, seperti yang diceritakan soal kakak dan suaminya. Saya pernah merasakan bagaimana ketidakjelasan pekerjaan dan kondisi ekonomi dapat memancing kecurigaan dan pertanyaan dari orang sekitar. Dalam menghadapi situasi seperti ini, penting untuk tetap bersabar dan berusaha memahami keadaan, sambil berdoa agar diberi kelapangan hati. Pengalaman saya mengajarkan bahwa kejujuran dan saling pengertian antar anggota keluarga sangat vital agar hubungan tetap harmonis, terutama saat menghadapi masa-masa sulit. Selain itu, kisah ini mengingatkan bahwa membangun rumah sendiri bukan hanya soal fisik bangunan, tapi juga membangun pondasi harapan dan kedewasaan kita dalam menghadapi masa depan. Ada banyak pelajaran hidup dalam proses ini: pentingnya perencanaan keuangan, komunikasi dengan keluarga, serta kekuatan doa dan ketabahan. Bagi pembaca yang sedang menghadapi tantangan serupa, jangan pernah ragu untuk mencari solusi kreatif dan belajar dari pengalaman orang lain. Perjalanan membangun "syurga yang lain" dalam hidup bisa dimulai dari langkah kecil yang penuh keyakinan dan kerja keras.
