Syurga Yang Lain, part 5.
"Anna, mana kunci mobil?
Andre mau pinjam buat jalan-jalan.
Minta uangnya juga sekalian buat beli bensinnya, nanti kalau mogok, kamu juga yang repot. Jangan lupa uang jajan juga buat Caca dan Ines, takut rewel dijalan."
Dikira aku ngepet kali, huh.
Bab 5
"Ada apa bu? Gabisa apa pelan-pelan kalau ketok pintu?" Ucapku yang tidak suka, bertamu kok seperti mau mena gih hu tang yang sudah lewat jatuh tempo.
"Takut kamu ga denger. Udah gausah basa-basi, ibu kesini mau pinjam mobil suami kamu, anak-anak kak Hanum pengen jalan-jalan katanya, nanti biar dibawa sama si Andre mobilnya. Mana sini kunci mobilnya!" Ucap ibu yang dengan enteng, meminjam mobil seperti meminjam panci. Andre adalah nama suami kak Hanum. Jangankan mobil, motor pun aku ragu meminjamkannya.
"Gabisa bu, aku habis maghrib mau pergi sama mas Awan, kita mau cari makan sambil jalan-jalan, aku gamau kehujanan pulang malam." Ucapku langsung meno lak keinginan ibu.
"Bela ga banget pake makan diluar, bukannya masak ini dirumah." Ucap ibuku dengan ke tus.
"Ibu ga inget masakan aku dibawa ka bur sama kak Hanum buat isi perut anak-anak dan suaminya, ga akan ber kah itu bu makanan dapet men cu ri." Ucapku yang ke sal karena sikap ibu.
"Jangan jadi anak ku rang a jar ya kamu An, mau kamu jadi anak dur ha ka? Syurga kamu ada di telapak kaki ibu." Ucapnya yang selalu mengungkit syurgaku ada ditelapak kakinya.
"Bu, syurgaku memang ada di telapak kaki ibu, tapi setelah aku menikah, syurgaku ada pada suamiku. Kalau ibu meng ha ram kan pintu syurga untukku, mungkin Allah akan berbaik hati untuk memasukkanku ke dalam pintu syurga, melalui taat pada suamiku. Aku sa bar juga ada batasnya bu. Kurang berbakti apa aku sama ibu dibandingkan anak kesayangan ibu itu? Dari sebelum aku menikah, aku kerja untuk ibu, uang bulanan aku kasih buat ibu, kebutuhan rumah aku yang belanja juga, beres-beres rumah juga aku yang kerjain. Kurang berbakti gimana aku sama ibu?" Aku tak bisa lagi menahan rasa ke sal ku, setiap hari ada saja yang harus di ri but kan. Dan setiap hari entah kak hanum atau suaminya itu selalu ada saja gebrakannya.
Bersambung..
Baca kisah selengkapnya hanya di KBMapp..
Judul : Syurga yang lain
Penulis : Putri krida
Status : sudah tamat.
Saya pernah mengalami situasi yang mirip dengan Anna, di mana dinamika keluarga dan tuntutan peran sebagai istri dan anak bisa sangat membingungkan. Ketika ibu atau keluarga besar mulai menuntut sesuatu yang bertentangan dengan komitmen pernikahan kita, sering kali terasa berat untuk mengambil sikap yang tepat. Seperti yang terlihat dalam cerita ini, Anna harus menghadapi permintaan ibunya yang meminta kunci mobil dan juga uang untuk bensin, bahkan sampai mengingatkan untuk menyiapkan uang jajan anak-anak lain, yang mana menjadi beban tersendiri. Ia menolak keras karena sudah ada rencana dengan suaminya, dan ia memilih untuk taat pada suami sebagai jalan menjaga keharmonisan rumah tangganya. Konflik seperti ini seringkali muncul dalam banyak keluarga di mana batasan antara peran sebagai anak dan istri tidak jelas. Pengalaman saya sendiri, perebutan peran dan batasan ini sangat krusial dan memerlukan komunikasi yang jujur dan tegas. Anna mencoba menjelaskan bahwa setelah menikah, fokusnya adalah pada suami dan keluarganya sendiri, bukan semata-mata harus memenuhi semua tuntutan ibu. Pernyataan "Syurgaku ada di telapak kaki ibu, tapi setelah aku menikah, syurgaku ada pada suamiku" sangat menggugah dan memperlihatkan kebijaksanaan ciri wanita yang mencoba mencari keseimbangan antara respect kepada orang tua dan tanggung jawab kepada suami. Namun, persoalan tidak selesai begitu saja karena sang ibu masih terus mengingatkan bahwa Anna harus berbakti sebagai anak, bahkan membanding-bandingkan dengan anak yang lain. Ini menimbulkan dilema dan mungkin luka batin bagi Anna dan pembaca yang mengalami hal serupa. Sebagai pembaca, kita bisa belajar bahwa dalam kehidupan nyata, ada kalanya kita harus menetapkan batas dengan penuh hormat, demi menjaga keharmonisan dan kesejahteraan semua pihak. Saya merasa kisah ini memberi gambaran realistis tentang pentingnya komunikasi terbuka dalam keluarga dan pernikahan, serta bagaimana menjaga kepedulian tanpa kehilangan jati diri. Semoga kisah Syurga Yang Lain ini menginspirasi kita untuk lebih bijaksana mengelola konflik keluarga dan memperkuat ikatan rumah tangga.
