Syurga Yang Lain, part 6.
gak tau kaya seneng aja kalau liat adikku dimarahin sama ibu.
aku gak suka kalau ibu kasih pujian sama Anna.
Makanya aku selalu lempar kesalahan sama adikku, biar kena marah ibu.
Sukurin!
Bab 6
POV Hanum
Kuambil plastik bening yang biasa Anna simpan di rak, kumasukkan semua hasil masakan Anna kedalam plastik. Toh nanti dia bisa masak lagi, kalau aku kan ga bisa masak. Jadi ga apa-apa kayanya kalau aku ambil semua masakannya. Kan lumayan bentar lagi mas Andre pulang, aku gausah masak. Pasti dia senang disuguhi makanan enak kaya gini. Setelah semua masakan kupindahkan kedalam plastik, aku pun menutup kembali lemari makan, dan pulang.
Ketika aku sedang merapikan meja makan, hal yang sudah kuantisipasi bakal terjadi.
"Kak kenapa kakak ambil masakanku?" Tanya Anna yang tiba-tiba menu duhku tanpa aba-aba, tidak so pan dia sebagai adik kepada kakaknya.
"Masakan apa? Ini kakak masak sendiri loh, jangan suka nu duh ya." Ucapku tidak mau ka lah, karna geng si dong kalau sampai mengakui bahwa masakan ini memang aku yang mengambilnya dirumahnya. Kami berde bat sampai ibu datang dan akhirnya telapak tangan ibu menda rat di pi pi mu lus Anna. Ups, aku ingin terta wa namun aku tahan. Ibu pasti lebih membe laku, bahkan, walaupun ibu tau masakan ini hasil aku mengambil dari rumahnya Anna, ibu tetap membe laku. Tidak lama Anna pun pulang kerumahnya sambil berlari, le bay seperti sinetron aja.
"Num, ngapain sih kamu segala ambil masakan dirumah Anna? Bukannya masak sendiri buat anak-anak dan suami kamu." Ucap ibu mema rahiku.
"Ah ibu, tadi aku lewat rumah Anna trus kecium wangi masakannya, aku niatnya mau nyicip sedikit tapi enak banget jadi aku bawa aja semua. Lagian si Anna bisa masak lagi kok, masa masalah gini aja dia ma rah sih." Ucapku sambil menyendokkan nasi kedalam mulut.
"Coba ibu mau makan juga, udah lama ibu ga makan masakan Anna, semenjak dia punya rumah sendiri, dia jadi gamau kesini." Ucap ibu sambil mengambil masakan demi masakan keatas nasi di piringnya.
"Ja ngan banyak-banyak bu, a nak-a nakku dan mas Andre belum makan." Ucapku mengingatkan ibu. Setelah aku, ibu dan a nak-a nakku makan, mas Andre pulang dengen sumringah.
"Num, bilang dong sama Anna pinjem mobil suaminya, kita jalan-jalan malam ini sama a nak-a nak. Ibu juga kalau mau ikut ayok kita jalan-jalan." Ucap mas Andre. Boleh juga sih jalan-jalan pake mobil, tapi masalahnya aku kan tadi bermasalah dengan Anna, gimana cara pinjem mobilnya.
"Bu, ibu aja coba pinjemin mobilnya si Awan, aku kan tadi habis bertengkar dengan Anna. Pokonya ibu harus dapetin mobilnya, biar a nak-a nakku bisa ngerasain jalan-jalan malam." Ucapku penuh penekanan, biasanya ibu tidak akan menolak jika aku yang meminta.
"Yaudah, bentar ibu kerumahnya dulu." Ucap ibu yang langsung beranjak dari kursi makan. Cukup lama ibu berada di sana hingga datang waktu adzan maghrib.
"Bu, mana kunci mobilnya?" Tanyaku tidak sabar.
"Boro-boro kunci mobil, kunci motor juga ga ada. Anna mau pergi sama suaminya makan malam sambil jalan-jalan katanya gara-gara masakannya kamu ambil." Ucap ibu sambil merengut dan duduk di sofa sambil memijat pelipisnya.
"Wah, aku ada ide, aku siap-siap dulu ah sama a nak-a nak. Lebih bagus kalo ikut pergi sama Anna, kan bisa makan enak, jalan-jalan tanpa harus keluar u ang soalnya pasti si Awan yang bakal bayarin." Aku pun langsung bersiap-siap dan menyuruh a nak-a nakku memakai pakaian yang bagus dan bilang kepada mereka bahwa kita akan jalan-jalan dengan tante Anna.
"Terserah kamu lah Num, ibu ga akan ikut-ikutan lagi. Ibu males berurusan dengan suaminya Anna." Ucap ibuku yang membuatku bertanya-tanya. Kenapa ibu?
Bersambung..
Baca kisah selengkapnya hanya di KBMapp..
Judul : Syurga yang lain
Penulis : Putri krida
Status : sudah tamat.
Sebagai pembaca yang mengikuti kisah "Syurga Yang Lain," saya bisa merasakan bagaimana konflik keluarga bisa menjadi sangat rumit dan emosional, terutama antara saudara kandung. Dalam cerita ini, Hanum tampak penuh ketegangan dengan adiknya Anna, yang membuat suasana rumah menjadi tidak nyaman. Saya pernah mengalami situasi serupa, di mana salah paham kecil di keluarga bisa dengan cepat berubah menjadi pertengkaran yang lebih besar. Dari pengalaman saya, salah satu cara untuk memperbaiki hubungan adalah dengan komunikasi terbuka dan empati agar setiap pihak merasa didengar dan dihargai. Dalam bagian ini, Hanum mencuri masakan Anna dan mencoba menutupi perbuatannya, yang akhirnya menimbulkan kemarahan ibu mereka. Ini mengingatkan saya bahwa terkadang, pilihan yang tampak mudah atau tidak terlalu serius bisa berujung pada masalah yang lebih besar di lingkungan keluarga. Saya belajar bahwa kejujuran dan pengertian satu sama lain adalah pondasi penting dalam menjaga keharmonisan keluarga. Meski begitu, sebagai manusia biasa, terkadang kita memang sulit mengendalikan emosi, apa lagi jika melibatkan rasa cemburu atau rasa kurang dihargai seperti yang ditunjukkan oleh Hanum ketika merasa ibu lebih memuji Anna. Selain itu, cerita ini juga menampilkan dinamika tambahan seperti keinginan untuk jalan-jalan bersama keluarga besar meskipun ada konflik, dan bagaimana ibu berusaha menjadi jembatan dengan mencoba meminjam mobil suami Anna. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya menjaga keseimbangan antara keinginan pribadi dan tanggung jawab keluarga. Dari cerita ini, saya merekomendasikan untuk selalu mencari solusi bersama dan tidak membiarkan masalah kecil menjadi penghalang kebahagiaan keluarga. Sebagai penambahan, kisah ini juga menggambarkan realitas keseharian keluarga Indonesia yang mungkin bisa dirasakan banyak orang, seperti masakan rumah, hubungan antar saudara, dan ketegangan dalam rumah tangga. Konteks ini membuat cerita "Syurga Yang Lain" semakin dekat dan relevan untuk dibaca oleh banyak kalangan, terutama yang pernah mengalami situasi serupa. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua untuk lebih menghargai nilai keluarga dan belajar dari setiap perbedaan yang ada.
