Banyak belajar agar tidak terkena bujuk rayu iblis
Aku dulu sering dengar kalimat, “seseorang yang memiliki sifat ikhlas dalam beribadah akan terhindar dari tipu daya setan dan iblis”, tapi jujur awalnya cuma paham di teori. Baru kerasa banget maknanya ketika mulai belajar memperbaiki niat dalam hal-hal kecil. Misalnya, dulu kalau salat malam, kadang dalam hati ada rasa pengin dianggap rajin ibadah. Pelan-pelan aku belajar membenahi niat: ini bukan buat dipuji orang, tapi murni karena Allah. Ternyata, saat niat diluruskan, godaan jadi beda rasanya. Bisikan malas, rasa ria, atau pengin pamer di media sosial pelan-pelan ketahuan, “oh ini cuma tipu daya setan yang masuk lewat hawa nafsu”. Di titik itu, aku merasa ikhlas itu benar-benar benteng. Menurut yang aku pelajari, orang yang ikhlas itu lebih tenang saat beribadah. Dia enggak gampang goyah cuma gara-gara komentar orang iri, dengki, atau orang munafik di sekitarnya. Mereka mungkin bisa menyakiti perasaan, tapi tidak mudah menggoyahkan keyakinan. Justru yang paling berbahaya itu tipu daya syetan dan iblis yang halus, terutama di akhir hayat. Di sinilah pentingnya latihan ikhlas sejak sekarang. Aku juga jadi lebih hati-hati dengan godaan di keseharian yang kelihatannya sepele. Contohnya saat diajak teman melakukan sesuatu yang jelas-jelas maksiat, atau ketika ada chat, ajakan, atau bujuk rayu yang mengarah ke zina, perselingkuhan, atau hal haram lainnya. Kadang setan datang lewat orang yang kita kenal, bahkan yang kita percaya. Di momen seperti itu, aku selalu mencoba tanya ke diri sendiri: “Kalau aku ikhlas ingin ridha Allah, apa aku masih berani ikut ajakan ini?” Pertanyaan sederhana itu sering jadi rem kuat. Doa “رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا...” juga pelan-pelan aku biasakan baca di setiap sujud terakhir. Rasanya kayak curhat: minta supaya hati tidak dibolak-balik, tidak condong ke kesesatan setelah Allah kasih hidayah. Soalnya, betapa banyak orang yang kelihatan baik di awal, tapi tergelincir di akhir. Tulisan tentang setan yang tidak pernah libur, yang bahkan menunggu di ujung nafas, bikin aku sadar bahwa nilai kita bukan cuma pada banyaknya amal yang tampak hari ini, tapi bagaimana akhir perjalanan saat kembali kepada Allah. Jadi sekarang, setiap kali merasa iman lagi naik, aku justru mencoba lebih waspada. Jangan sampai sombong dengan iman, jangan terhipnotis dengan pujian orang. Ikhlas itu memang tidak mudah, tapi dengan terus belajar ilmu, jaga doa, dan perbanyak mengingat kematian, semoga Allah jaga kita dari tipu daya setan dan iblis, terutama di detik-detik terakhir kehidupan.
Semoga kita dilindungi sampai akhir hayat 🤲