SIFAT PELIT BISA MENJADI INVESTASI DOSA DI AKHIRAT Pernahkah kita merasa berat untuk berbagi, padahal kita tahu bahwa harta yang kita miliki hanyalah titipan? Di dalam Islam mengajarkan kita untuk menjaga hati dari sifat bakhil. Para ulama menjelaskan bahwa bakhil atau pelit diibaratkan seperti pohon di neraka yang mengomel-rantingnya ada di dunia. Siapapun yang berpegang pada mengomelnya, maka sifat itu akan menyeretnya menuju neraka. Sebaliknya, kedermawanan adalah pohon di surga yang mengomel-rantingnya juga ada di dunia. Siapa pun yang memegangnya, maka ia akan dibawa menuju surga. Karena itu orang yang suka memberi adalah orang yang dimuliakan. Rasulullah ﷺ dikenal sangat dermawan, terutama ketika Ramadhan. Bulan tersebut menjadi latihan bagi seorang muslim untuk membiasakan diri berbagi dan meninggalkan sifat pelit. Allah ﷻ berfirman: ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ “Siapa yang menjaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Ḥasyr [59]: 9) Dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR Al-Bukhâri: 1427 dan Muslim: 1053) Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk orang-orang yang dermawan dan dijauhkan dari sifat bakhil.
Dalam pengalaman saya, belajar memahami dan mengaplikasikan ajaran tentang kedermawanan sangat membantu dalam mengatasi rasa berat untuk berbagi. Memang tidak mudah untuk melepaskan sedikit harta yang kita miliki, terutama saat kondisi ekonomi pribadi sedang tidak stabil, apalagi jika kita belum benar-benar menyadari bahwa harta adalah titipan dari Allah. Namun, apabila kita membuka hati dan mencoba membiasakan diri untuk memberi, maka akan muncul rasa puas dan bahagia yang sulit didapat dari menimbun harta semata. Selain itu, konsep bakhil seperti pohon di neraka yang ranting-rantingnya ada di dunia memberikan gambaran yang sangat kuat tentang konsekuensi sifat pelit. Saya pernah menonton kajian dari Khalid Basalamah yang menjelaskan hal ini secara rinci. Penjelasan tersebut sangat mengena karena kita dapat membayangkan bahwa sifat bakhil yang ditunjukkan di dunia ini akan berakibat buruk di akhirat, sehingga sifat ini harus dijauhi. Sebaliknya, kedermawanan dianalogikan sebagai pohon di surga dengan ranting-rantingnya di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa setiap bentuk kebaikan dan berbagi di dunia, meski kecil, bisa menjadi jalan menuju surga. Rasulullah ﷺ yang dikenal sangat dermawan terutama saat Ramadhan juga menguatkan nilai penting dari beramal selama bulan suci ini. Sebagai latihan spiritual, Ramadhan mengajarkan kita meninggalkan sifat pelit dan merangkul sikap berbagi. Menurut pengalaman saya, hal-hal sederhana seperti menyisihkan sebagian rejeki untuk berbagi makanan buka puasa bersama tetangga, atau memberikan sedekah kepada yang membutuhkan dapat membentuk karakter yang lebih dermawan. Dengan cara ini, kita tidak hanya menghindari sikap pelit, tetapi juga memperkuat rasa empati dan solidaritas sosial. Tidak hanya itu, kebiasaan memberi secara konsisten ini pun terasa membawa keberkahan dalam hidup, seperti memperkuat hubungan sosial dan mendatangkan ketenangan batin. Seiring waktu, saya juga memahami bahwa menjaga diri dari kekikiran adalah salah satu kunci keberhasilan hidup yang disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Ḥasyr ayat 9, di mana orang yang berhasil adalah mereka yang menjaga dirinya dari sifat pelit. Berbagi bukan hanya soal materi, tapi juga waktu dan perhatian. Memberi bantuan dengan tulus kepada orang lain merupakan wujud kedermawanan yang diperintahkan dalam Islam. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan istiqomah mengamalkan sifat dermawan agar menjadi investasi kebaikan di dunia dan akhirat.
































































