Rekomendasi Novel
Bab 2
Shanum duduk kaku di sofa dengan daster katun sederhana, berseberangan dengan Prana yang tampak tenang namun konsisten meliriknya. Di samping Shanum, Fadil menyesap kopi dengan semangat yang kontras dengan perang batin di hadapannya.
“Kenalin, ini Prana,” buka Fadil. “Rekan bisnis sekaligus teman lamaku. Dia dokter spesialis kandungan yang baru pindah tugas ke RS dekat sini. Karena dia butuh tempat tinggal, lantai dua rumah kita sudah kusewakan padanya.”
Dada Shanum sesak. “Lantai dua? Mas, kenapa tidak bicara dulu denganku?” bisiknya bergetar.
Fadil tertawa renyah, nada yang meremehkan. “Lantai dua itu kosong. Daripada berdebu, lebih baik disewakan. Lagipula, aku kepala rumah tangga. Aku yang memutuskan apa yang terbaik untuk rumah ini.”
“Mas, bisa kita bicara sebentar? Di dalam?” Shanum memohon dengan tatapan mata, berharap ada ruang pribadi untuk protes.
Namun, Fadil mengibaskan tangan dengan kasar. “Tidak perlu. Prana sudah bayar dan pegang kunci. Tidak ada yang perlu dirundingkan lagi.”
“Tapi Mas—”
“Jangan berlebihan! Kamu memalukanku di depan teman sendiri,” potong Fadil ketus. “Tangga ke atas ada akses dari taman samping. Dia tidak akan menyentuh area utamamu. Jangan merengek seolah dunia mau kiamat!”
“Ini rumah kita, aku juga tinggal di sini!” suara Shanum mulai pecah.
“Cukup!” Fadil memutus dengan otoritas mutlak. “Tugasmu cuma duduk manis, nurut sama suami, dan urus rumah. Jangan ikut campur urusan yang bukan kapasitasmu.”
Prana berdehem, memecah keangkuhan Fadil dengan suara bariton yang dalam. “Maaf menyela. Saya tidak tahu kehadiran saya akan menimbulkan perdebatan. Jika keberatan, saya bisa membatalkan—”
“Ah, jangan didengar, Pran!” Fadil menepuk bahu Prana akrab. “Istriku memang sering mendramatisir hal sepele. Namanya juga perempuan.”
Kata-kata itu terasa seperti tamparan bagi Shanum. Ia mematung saat Fadil menarik Prana ke lantai atas untuk menaruh koper. Dari bawah, ia mendengar tawa menggelegar suaminya yang terdengar menyakitkan.
Shanum meremas kain dasternya hingga kusut. Harga dirinya baru saja dilumat habis oleh suaminya sendiri di depan pria yang dulu sangat memujanya. Kini, mantan kekasihnya itu akan tinggal tepat di atas kepalanya.
Bagaimana jika nanti kami berpapasan? Bagaimana jika Fadil sedang bekerja dan kami hanya berdua di rumah ini?
Suara langkah kaki menuruni tangga membuat Shanum tersentak. Ia segera menghapus sudut matanya yang basah.
Fadil turun dengan wajah cerah, sementara Prana mengikuti di belakang dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Pria itu sudah menyampirkan tas dokter, siap bertugas.
“Shanum, dengar,” ujar Fadil merangkul bahu istrinya dengan penuh kepemilikan namun tanpa kehangatan. “Prana mulai tinggal di sini. Jangan sampai aku dengar keluhan lagi. Kalau dia butuh apa-apa, kamu harus bantu. Mengerti?”
“Iya, Mas,” jawab Shanum patuh, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia tak berani menatap mata Prana yang terasa membakar dari balik punggung suaminya.
Penulis : Queenshe
Judul : Satu Kali Lagi, Mas
Plaform : Goodnovel
























