Satu Kali Lagi, Mas
Bab 3
“Makan yang banyak, Pran. Anggap rumah sendiri,” ujar Fadil pongah sembari melahap nasinya. “Gimana? Sudah nyaman tinggal di lantai atas?”
Meja makan itu terasa seperti panggung sandiwara yang mencekik bagi Shanum. Aroma hidangan kalah telak oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tatapan Prana tepat di hadapannya.
Prana tersenyum tipis—sebuah lengkungan bibir yang tak menyentuh mata. “Sangat nyaman, Fadil. Terima kasih sudah mengizinkanku menumpang di sini.”
Pandangan Prana tak lepas dari gerak-gerik Shanum, mengikuti tiap inci jemari wanita itu saat menuangkan air.
“Jangan sungkan, kita kan kawan lama!” Fadil menepuk meja keras, lalu mulai memamerkan kuasanya sebagai importir alat kesehatan. “Alat-alat pesananmu dari Jerman sudah sampai di gudangku sore tadi. Cepat, kan?”
“Sangat cepat,” sahut Prana dengan mata berkilat.
“Siapa dulu importirnya,” Fadil membusungkan dada. “Nah, mumpung disini. Aku mau minta tolong secara pribadi. Periksa istriku. Aku curiga dia mandul. Bayangkan, lima tahun rahimnya kosong!” pinta Fadil pada Prana.
Wajah Shanum memanas. Rasa malu dan penghinaan menembus tulang. Di depan pria yang tujuh tahun lalu memujanya, ia kini dipamerkan Fadil sebagai barang rusak yang gagal fungsi.
“Mas, apa tidak sebaiknya nanti saja?” sela Shanum lirih, mencoba menyelamatkan harga dirinya.
“Ngapain nunggu? Prana ada di sini, alatnya ada. Aku mau ini dipercepat!” potong Fadil tajam. “Keluargaku butuh pewaris, Shanum. Kalau kamu rusak, kita harus tahu secepatnya supaya bisa 'diperbaiki'.”
Shanum terdiam, meremas serbet di bawah meja hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Ia tak berani mendongak, namun ia bisa merasakan panasnya tatapan Prana yang seolah sedang menelanjangi ketidakberdayaannya.
“Gimana, Pran? Bisa, kan?” desak Fadil.
Prana menyesap tehnya perlahan. “Tentu, Fadil. Datanglah lusa setelah alat terpasang di klinik. Kita akan cari tahu di mana letak 'masalahnya'.”
Kalimat itu terdengar profesional bagi Fadil, namun terdengar seperti ancaman bagi Shanum. Lusa, mantan kekasihnya itu akan memiliki akses legal untuk menyentuh tubuhnya.
“Bagus! Makan yang banyak, Pran!” Fadil tertawa puas, abai pada ketegangan yang nyaris meledak.
Dalam kegugupan yang memuncak, kaki Shanum tak sengaja menyenggol kaki Prana di bawah meja. Ia hendak menariknya, namun Prana justru mengunci kaki wanita itu dengan tekanan halus yang disengaja. Sentuhan kulit ke kulit itu membuat napas Shanum tersendat.
“Lusa di klinik, kita mulai pemeriksaannya,” ucap Prana tenang, berwibawa di depan Fadil, namun penuh provokasi di bawah meja.
Shanum menatap Prana dengan mata berkaca-kaca karena panik. Ada kilat gelap di mata sang dokter yang sulit diartikan. Di bawah meja, kaki Prana terus mengunci, menyebarkan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh Shanum.
“Iya Mas, aku dengar,” jawab Shanum akhirnya, menyerah pada situasi yang mulai lepas kendali.
Penulis : Queenshe
Judul : Satu Kali Lagi, Mas
Plaform : Goodnovel
Melalui cerita ini, kita dapat melihat bagaimana peran hubungan interpersonal dan tekanan sosial mempengaruhi dinamika keluarga dan kehidupan pribadi. Dalam situasi seperti Shanum yang menghadapi tekanan dari suaminya Fadil serta kehadiran Prana sebagai dokter dan mantan kekasih, kita bisa merasakan bagaimana ketegangan psikologis dapat terbangun dalam konteks yang tampak sederhana seperti makan bersama. Pengalaman ini mengingatkan saya pada kisah nyata di sekitar saya, di mana masalah kesuburan dan tekanan untuk memiliki keturunan dapat sangat membebani mental pasangan. Sama seperti Shanum yang merasa dipermalukan dan terancam, banyak wanita mengalami ketidakberdayaan saat masalah kesehatan mereka menjadi sorotan orang lain. Hal ini penting untuk diingat agar empati dan komunikasi yang baik selalu ditegakkan dalam menghadapi isu sensitif seperti ini. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan bagaimana profesionalisme dan kepentingan pribadi bisa bertabrakan, terutama saat Prana harus menjalankan tugasnya sebagai dokter sementara dibayang-bayangi hubungan masa lalu dan ketegangan tersembunyi. Dari sudut pandang saya, penting bahwa tenaga medis mampu menjaga batasan profesional agar kondisi pasien dapat ditangani secara optimal tanpa menimbulkan konflik baru. Secara keseluruhan, cerita ini mengangkat isu-isu sosial dan psikologis yang kompleks dalam rumah tangga dan dunia medis. Membaca 'Satu Kali Lagi, Mas' bukan hanya sekadar menikmati drama fiksi, tetapi juga mendorong kita untuk lebih sadar akan pentingnya memahami perasaan dan kondisi orang lain dalam kehidupan nyata. Bagi saya, pengalaman seperti ini sangat mengajarkan nilai kesabaran, pengertian, dan pentingnya dukungan dalam menghadapi masalah keluarga dan kesehatan.


