#istanaku🧔

gpp😊nga perlu megah,besar bak istana,yang penting terlindung dari hujan,panas & badai.

gpp bukan istana,meski gubuk yang penting penuh Damai & Kebahagiaan.

apapun itu belajarlah untuk bersyukur,berdamailah dengan kadaan,susah-senang,sakit-sehat,kurang-lebih,apapun itu jangan lupa untk BERSYUKURšŸ¤

#lemon8indoneisa #TanpaEdit #RumahkuSyurgaku #AdaYangSama

2025/7/21 Diedit ke

... Baca selengkapnyaAku selalu suka kalimat ā€œkamarku istanakuā€ dan ā€œistana hatikuā€, karena kerasa banget nyambung sama kondisi rumahku sekarang. Kalau lihat foto-foto ruangan di rumah, semuanya serba sederhana: ruang tamu merangkap kamar tidur dengan kasur di lantai, kipas angin yang setia muter, jendela kecil tempat cahaya masuk. Tapi justru di situ aku merasa paling nyaman. Dulu aku sempat minder karena rumahku jauh dari kata mewah. Dinding sebagian dari material daur ulang, beberapa sisi dapur cuma seng sederhana, barang-barang numpuk di sudut kamar. Tapi lama-lama aku sadar, istana hatiku bukan soal tembok tinggi atau dekor mahal, melainkan rasa aman, damai, dan orang-orang yang ada di dalamnya. Ruang makan kami juga sederhana. Meja makan biasa, sofa kuning di sampingnya yang kadang jadi tempat naruh barang, suasananya santai banget. Tapi di ruang itulah kami sering kumpul, makan bareng, ngobrol hal-hal receh sampai hal serius. Di situ aku merasa, meski gubuk, suasana kebersamaan yang bikin ruangan kecil itu berasa istana. Kamar tidurku penuh barang, banyak tas dan perlengkapan ditumpuk di sudut ruangan. Kadang aku pengin punya kamar aesthetic yang rapi dan luas, tapi untuk sekarang aku belajar menerima: ini versi terbaik yang aku punya saat ini. Pelan-pelan aku benahi, aku rapikan sebisanya, sambil terus mengingat kalau yang penting adalah hati yang bersyukur, bukan sekadar tampilan luar. Dapur juga jadi tempat favorit. Kompor dan panci sederhana, dinding seng, tapi dari situlah lahir banyak momen: masak bareng keluarga, nyobain resep baru yang berseliweran di medsos, sampai obrolan dini hari sambil bikin mie instan. Fungsional banget, nggak mewah, tapi justru hangat. Kalau kamu lagi merasa kurang karena rumah atau kamar belum seperti yang kamu impikan, mungkin kamu perlu berhenti sejenak dan lihat lagi dari sudut lain. Kamarmu bisa jadi istanamu kalau kamu mengisinya dengan hal-hal yang bikin hati tenang: kebersihan, kerapiannya sebisamu, doa dan zikir, hobi yang kamu suka, dan tentu saja orang-orang yang kamu sayang. Istana hatiku ada di rumah sederhana ini, karena di sinilah aku belajar menghargai hujan yang nggak tembus atap, panas yang masih bisa dihalau kipas angin, dan badai hidup yang terasa lebih ringan saat dilalui bersama. Megah atau tidak, yang terpenting: kita merasa pulang, diterima, dan dicintai. Di situ, kamarku benar-benar jadi istanaku.