... Baca selengkapnyaAku dulu sering banget nanya ke diri sendiri: mengapa aku nggak bisa cinta sama orang yang begitu baik? Mengapa hati ini kosong padahal di atas kertas dia hampir sempurna? Pertanyaan itu muter terus di kepala, sampai bikin aku ragu sama diri sendiri.
Awalnya aku pikir, "mungkin kalau dijalanin aja, lama-lama juga jatuh cinta". Aku maksa diri buat terlihat bahagia setiap jalan bareng, pura-pura excited tiap dia ajak ketemu atau kirim chat panjang. Tapi di balik layar HP, aku sering cuma bengong lama sebelum bales, karena nggak ada rasa yang bikin deg-degan.
Setiap orang lihat dari luar, hubungan kami kelihatan ideal. Dia perhatian, nggak pelit, mapan, sayang keluarga, bahkan banyak yang bilang, "dia itu paket lengkap, kamu beruntung." Tapi justru itu yang bikin aku makin bingung: mengapa aku nggak merasa beruntung seperti yang orang lain lihat? Mengapa aku malah merasa tertekan?
Ada masa di mana aku bertahan bukan karena cinta, tapi karena takut menyakiti perasaannya. Takut dibilang nggak tahu diri. Takut dicap egois. Setiap kali dia genggam tangan aku, di kepala cuma ada satu suara: "kapan kamu bisa jujur?" Rasanya capek banget, capek pura-pura bahagia, capek pura-pura semangat tiap dia ajak ketemu, capek bohong ke diri sendiri.
Titik baliknya datang waktu aku sadar: cinta yang dipaksa nggak akan pernah benar-benar hidup. Hubungan yang dipertahankan cuma karena kasihan atau takut sendirian, ujungnya tetap sama—ada yang tersakiti. Bedanya, makin lama ditunda, lukanya makin dalam.
Dari situ aku pelan-pelan belajar menerima bahwa:
- Nggak bisa balas cinta seseorang itu bukan kejahatan.
- Mengakhiri hubungan yang nggak sehat buat hati, justru bentuk tanggung jawab ke diri sendiri dan ke dia.
- Dia berhak dapat orang yang bener-bener jatuh cinta sama dia, bukan cuma terbiasa.
Waktu akhirnya aku memilih jujur dan bilang, "maaf, aku nggak bisa maksa hati", rasa bersalahnya tetap ada. Tapi di saat yang sama, ada lega yang susah dijelasin. Aku nggak perlu lagi pura-pura excited, nggak perlu lagi mikir jawaban chat biar kelihatan sayang.
Kalau kamu sekarang lagi di posisi yang sama dan terus bertanya, "mengapa aku nggak bisa cinta, padahal dia baik banget?", mungkin jawabannya simpel: karena hati nggak bisa dipaksa. Dan itu nggak membuatmu jahat. Yang penting, cara kamu menyampaikannya tetap lembut dan penuh hormat.
Pada akhirnya, aku belajar kalau jujur itu memang menyakitkan di awal, tapi jauh lebih manusiawi dibanding terus menggantungkan harapan orang lain. Dan dari situ, pelan-pelan aku berdamai dengan diri sendiri, menerima bahwa kadang, melepaskan adalah bentuk sayang yang lain.