Teman-teman pernah nggak sih ngerasa capek karena terlalu mikirin pendapat orang lain?
Aku lagi baca buku ini dan aku setuju banget sama satu kalimat ini: "Menggantungkan kebahagiaan ke hal di luar kendali kita itu rapuh dan berisiko."
Sadar nggak? tanpa sadar, kita tuh sering banget pengen disukai semua orang, takut di judge karena beda pendapat sama orang, atau hidup ngikutin ekspektasi orang lain.
Padahal, pendapat orang lain nggak pernah benar-benar tetap dan berubah-ubah sesuai pikiran mereka.
Kalau kebahagiaan kita ikut di gantungin ke sana, yang capek tuh yah kita sendiri.
Dan buku ini tuh ngingetin aku buat fokus ke hal yang bisa aku kendaliin yaitu, pikiranku, sikapku, dan keputusan diri sendiri. Sisanya? Boleh didengar, tapi nggak harus diikutin.
Kalau kamu lagi belajar lebih tenang & nggak bergantung sama validasi orang lain, simpan postingan ini ya. Share ke teman yang sering overthinking pendapat orang.
Yuk kita sharing bareng di kolom komentar👇
Pengalaman hidup teman-teman yang pernah ngalamin fase hidup ngikutin pendapat orang lain.
... Baca selengkapnyaBerdasarkan pengalaman pribadi, menyadari bahwa kebahagiaan tidak harus bergantung pada pendapat orang lain benar-benar mengubah cara pandangku. Setelah membaca beberapa bagian dari buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, aku mulai mencoba mengendalikan fokus pada hal-hal yang bisa aku atur, seperti pikiran, sikap, dan keputusan pribadiku.
Satu hal yang aku pelajari adalah bahwa pendapat orang lain itu sifatnya dinamis dan seringkali berubah tanpa alasan yang jelas. Jadi, kalau kita membiarkan kebahagiaan tergantung pada hal-hal yang tak pasti ini, pada akhirnya yang merasa lelah dan kecewalah diri kita sendiri.
Praktik sederhana yang aku coba adalah dengan menetapkan batasan dalam menerima pendapat orang lain. Aku memutuskan untuk mendengar, tapi tidak selalu harus mengikuti atau terlalu dipikirkan. Awalnya memang sulit, karena sudah terbiasa ingin disukai dan takut dihakimi. Namun, perlahan-lahan aku mulai merasakan ketenangan yang lebih besar dalam hidup.
Selain itu, aku juga menulis pengalaman ini di media sosial untuk mengingatkan diri sendiri dan teman-teman yang mungkin juga sedang berjuang dengan masalah serupa. Berbagi cerita di kolom komentar membuat aku sadar bahwa banyak orang juga merasakan hal yang sama, dan kita bisa saling memberi dukungan agar lebih fokus pada kebahagiaan dari dalam diri sendiri.
Kalau kamu juga sering merasa overthinking soal pendapat orang lain, cobalah langkah kecil dengan lebih memperhatikan apa yang bisa kamu kendalikan. Jangan sampai terperangkap dalam keinginan untuk selalu menyenangkan semua orang. Ingat, kebahagiaan adalah hakmu dan sumbernya ada di dalam dirimu sendiri.