Kita perlu belajar menangis, sebelum kita dapat menghapus air mata orang lain
Inspirasi hari ini : Memaafkan - tidak mudah dilakukan. Saat kita disakiti, sifat alamiah kita cenderung untuk membalas supaya impas. Epictetus seorang filsuf dari Yunani, berkata, " Mengampuni, lebih baik daripada membalas dendam, karena mengampuni adalah sifat alamiah kita yang Ksatria, tetapi membalas dendam, adalah sifat barbar".
Joseph Kudar adalah seorang pengacara yang sukses pada era tahun 1950-an di Hongaria, sebelum pemberontakan meletus pada tahun 1956. Ia bersama rekan-rekannya bergabung melawan tirani komunis. Kegagalan perlawanan anti komunis memaksanya melarikan diri ke Amerika Serikat.
Sesampainya di sana, tanpa uang dan teman, ia mencoba melamar pekerjaan. Dengan bekal intelektualitas dan kemampuan berbicara dalam bahasa asing, termasuk Inggris, ia mencoba melamar pekerjaan di kantor pengacara. Tetapi, karena ia kurang begitu mengenal hukum di Amerika, ia ditolak dengan sopan.
Akhirnya, ia mencoba mencari pekerjaan lain dalam perusahaan impor-ekspor. Dua minggu kemudian ia menerima jawaban dengan agak kasar dari salah satu perusahaan. Alasannya, tata bahasa Inggrisnya kacau-balau. Terluka, hati Kuhar menjadi mendidih. Dengan hak apa mereka berkata kasar seperti ini. Kudar duduk termenung dalam keadaan... marah! Lalu ia mengambil pena, menulis surat balasan yang lebih kasar kepada perusahaan yang telah menolaknya itu. Saat ia membaca surat balasannya itu kembali, ia teringat dengan ayat, "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman.... " (Ams.15:1). Hatinya terasa dingin kembali. Tidak, aku tidak jadi mengirim surat itu. Mungkin orang itu benar. Bahasa Inggrisku memang kurang sempurna, karena aku bukan orang Amerika. Kemudian Kudar menulis surat lagi, kali ini dengan nada halus, meminta maaf atas kelancangannya, menjelaskan keadaannya, dan berterima kasih kepada orang yang telah mengoreksi bahasa Inggrisnya.
Dua hari kemudian, ia menerima telepon dari perusahaan yang telah menolaknya dan mengundangnya ke New York untuk wawancara. Seminggu kemudian, ia diterima kerja. Di kemudian hari, Kudar diangkat menjadi wakil presiden perusahaan itu.
Saudara, bila saja Kudar melanjutkan mengirim "surat jengkel"-nya itu, mungkin ia akan terlunta-lunta di negeri Paman Sam sebagai gembel yang tidak mendapat pekerjaan.
Apabila Anda marah dan panas hati, entah karena apa saja, akan membawa Anda ke dalam jurang penderitaan. Menyimpan dendam jelas menghalangi persekutuan kita dengan Allah.
Alkitab berkata, " Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu". Jangan bangkitkan sifat barbar dalam diri kita.
Doa hari ini : Tuhan, sucikan hati dan pikiran sehingga saya bisa melepaskan sifat barbar ini
Mengampuni adalah proses yang sering kali tidak mudah, terutama ketika kita disakiti atau diperlakukan tidak adil. Berdasarkan pengalaman pribadi dan cerita Joseph Kudar, saya belajar bahwa kemampuan untuk menahan diri dari kemarahan dan membalas dengan kelembutan dapat membuka banyak pintu kesempatan. Ketika saya menghadapi situasi sulit di tempat kerja, seperti kritik yang terasa menyakitkan atau perlakuan kurang baik, saya pernah merasa marah dan ingin membalas. Namun, saya mencoba menghentikan diri dan mengingat bahwa membalas dendam hanya menambah beban pikiran dan memperburuk keadaan. Seperti yang dikatakan Epictetus, memaafkan adalah sifat ksatria yang membawa kedamaian. Saya belajar dari pengalaman Kudar, bahwa bagaimana kita menanggapi penolakan atau kritik bisa menentukan masa depan kita. Dengan menulis surat dengan nada halus dan rendah hati, bukan hanya saya menghindari konflik, tetapi juga membangun hubungan yang lebih baik dan mendapatkan kesempatan kedua. Ini membuktikan bahwa 'jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman' sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, saya merasakan bahwa menyimpan dendam dan kemarahan bukan hanya menghalangi hubungan dengan orang lain, tapi juga mengganggu kesejahteraan batin. Ketika marah terus dipelihara, saya merasa sulit berkonsentrasi dan menikmati hidup. Sebaliknya, melepaskan kebencian dan memaafkan memberikan kebebasan dan kedamaian yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saya juga mulai rutin berdoa dan merenungkan nasihat dalam alkitab yang mengajak kita menyingkirkan amarah dan kata-kata kotor dari mulut kita. Dengan cara ini, saya berusaha menyucikan hati dan pikiran agar tidak terbawa oleh sifat barbar "membalas dendam". Ini bukan hal yang instan, tapi terus saya latih setiap hari. Bagi yang saat ini sedang berjuang menghadapi luka batin atau penolakan, saya sarankan untuk mencoba melihat situasi dari sudut pandang yang lebih luas dan mencari jalan damai. Belajar menangis, mengenali emosi, lalu mengubahnya menjadi pengampunan adalah langkah penting untuk kesehatan mental dan hubungan sosial yang harmonis. Jangan biarkan amarah menjadi jurang penderitaan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

