Dosa Digital:Cuma Jari yg Gerak, Tp dosa mengalir

Haloo lemonade🍋

Jempol kita bakal dimintai pertanggungjawaban.

Apa yang kita like, komen, share, bahkan scroll…

Semua terekam jelas, bukan cuma di algoritma—tapi di catatan amal.

❓Kamu pernah ngerasa bersalah karena konten digital? Atau pernah sadar ternyata “cuma lihat doang” itu juga bisa dosa?

Yuk, share dan ingetin bareng. Kita hidup di dunia digital, tapi tujuan kita tetap akhirat.

#LifeBingo #TrenVSAgama #AdaYangSama #TahukahKamu #KreatorIndonesia

2025/7/31 Diedit ke

... Baca selengkapnyaJujur, dulu aku sering banget asal ketik di chat dan medsos. Kadang pakai gombalan bahasa daerah, kadang pantun buat ngeblokir WA orang yang ngeselin, dan kupikir itu cuma hiburan. Tapi makin ke sini aku sadar, dunia digital itu tetap dunia nyata di mata Allah. Semua yang kita tulis, kirim, dan share terekam. Misalnya gombalan bahasa Sumbawa atau bahasa daerah lain yang kita kirim ke seseorang. Kelihatannya cuma lucu, tapi kalau isi gombalan itu mengarah ke hal maksiat, bikin orang baper padahal bukan pasangan sah, atau mengandung kata-kata yang nggak pantas, itu bisa jadi dosa digital juga. Jadi sekarang aku coba lebih pilah: gombalannya yang sopan, nggak merendahkan, dan nggak mengarah ke hal yang Allah larang. Sama halnya dengan pantun memblokir WA. Memang kadang kita capek sama orang yang suka spam atau chat yang bikin nggak nyaman. Memblokir itu sah-sah aja, bahkan bisa jadi cara menjaga diri. Tapi yang perlu dijaga adalah isi pantunnya. Dulu aku suka pakai pantun pedas, nyindir, bahkan sedikit kasar. Sekarang aku mikir: kalau niatnya mau jaga jarak, kenapa harus sambil menjatuhkan orang? Toh kita bisa blokir dengan cara baik, bahkan tanpa harus kirim pantun yang menyakiti. Di konten visual yang aku bagikan, ada poin-poin dosa digital yang sering kejadian: ghibah online, stalking dengan iri, share tanpa sharing (asal sebar hoaks), konten maksiat, dan nyinyir di kolom komentar. Semua itu sering banget dibungkus bercanda, gombalan, atau pantun. Padahal efeknya ke hati dan ke catatan amal tetap nyata. Sekarang tiap buka internet, aku coba ingat satu hal: "Bijak digital = selamatkan diri. Mulai dari jari, jaga hati." Aku masih suka bikin pantun dan gombalan, tapi arahnya kucoba ubah: buat hiburan yang positif, saling menguatkan, bukan menjatuhkan. Kalau mau blokir WA, aku pilih cara yang elegan: jelaskan baik-baik kalau perlu, atau diam-diam blokir tanpa harus nulis kata-kata jahat. Kalau kamu juga sering pakai gombalan atau pantun di chat, coba cek lagi: apakah itu bikin orang tersenyum tapi tetap dalam batas sopan, atau malah bikin dosa mengalir dari jempolmu? Kita nggak bisa menghapus masa lalu, tapi kita bisa mulai lebih hati-hati sekarang. Dunia digital tetap akan jadi tempat kita main, tapi biar nggak jadi ladang dosa, kita harus berani mengatur kata-kata dan konten yang keluar dari HP kita.