kemarin aku sempat upload konten tentang rambut anakku yang tiba-tiba muncul uban di usia balita. Jujur aja, awalnya aku kira cuma aku yang heran dan khawatir 😅
Eh ternyata banyak juga ibu-ibu lain yang ngalamin hal sama!
Yang bikin makin seru, teman collab-ku Hilda Vegi langsung menanggapi lewat kontennya dengan penjelasan dari sisi kesehatan 🩺 dan wellness — mulai dari penyebab, faktor genetik, sampai hal-hal kecil yang sering kita abaikan tapi bisa berpengaruh ke kondisi rambut anak.
Senang banget rasanya bisa punya teman kolaborasi yang saling melengkapi. Aku bahas dari sisi keseharian & pengalaman sebagai IRT, Hilda Vegi bantu jelaskan dari sisi kesehatan tubuh.
Begini deh serunya kalau dunia parenting & kesehatan bisa saling nyambung 💬💚
Kolaborasi kayak gini bukan cuma tentang bikin konten bareng, tapi tentang membangun ruang belajar dan saling menguatkan antar IRT creator 💕
terimakasih uni Hilda Vegi udah bantu cari jawaban dari rasa penasaranku ini 🤭
... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali nemu uban di rambut anak, aku bener-bener mikir: “Ini normal nggak sih? Masih kecil kok udah ada uban?” Apalagi di gambar kolab kemarin, jelas banget kelihatan helaian rambut putihnya. Aku kira cuma anakku yang begitu, ternyata banyak juga yang curhat di kolom komentar.
Setelah collab dan banyak baca, ternyata uban pada anak kecil bisa dipengaruhi beberapa hal. Yang paling sering dibahas itu faktor genetik. Jadi kalau di keluarga ada yang memang cepat beruban (misalnya ayah, ibu, atau kakek-nenek mulai beruban di usia muda), kemungkinan anak juga bisa punya rambut putih lebih cepat. Jadi bukan selalu tanda penyakit yang menakutkan.
Ada juga yang nanya, “Kalau dalam Islam gimana, ada aturan soal uban nggak?” Dari yang aku pelajari, uban itu justru sering dianggap sebagai tanda bertambahnya usia dan bisa jadi pengingat untuk kita. Bahkan ada anjuran untuk tidak mencabut uban, karena itu bagian dari fitrah dan proses alami tubuh. Walaupun konteksnya lebih sering dibahas untuk orang dewasa, menurutku ini mengingatkan juga supaya kita nggak panik berlebihan kalau lihat uban, baik di diri sendiri yang masih muda banyak uban, maupun di anak. Fokusnya tetap ke ikhtiar menjaga kesehatan.
Dari sisi kesehatan, yang penting kita perhatiin bukan cuma ubannya, tapi kondisi umum anak: makannya gimana, aktif nggak, ada keluhan lain atau nggak. Kadang uban bisa muncul karena kekurangan nutrisi tertentu, misalnya vitamin B12 atau zat besi, atau karena anak lagi stres (pindah sekolah, lahir adik baru, dan lain-lain). Tapi itu pun harus dipastikan lewat dokter, bukan cuma tebak-tebak sendiri.
Kalau kamu masih muda tapi sudah banyak uban, aku pribadi sekarang jadi lebih santai setelah ngalamin ini di anak. Dulu sempat minder juga kalau ketemu uban sendiri di depan cermin. Tapi setelah tahu bisa karena faktor genetik dan pola hidup, aku jadi lebih fokus ke makan yang lebih seimbang, istirahat cukup, dan merawat rambut pakai produk yang lembut. Itu juga yang aku terapkan ke anak: pilih sampo yang lembut, nggak sering-sering pakai produk kimia, dan usahakan kulit kepalanya tetap bersih.
Buat ibu-ibu yang lagi galau soal uban pada anak kecil, menurutku langkah aman adalah:
1. Amati dulu, apakah cuma beberapa helai atau makin banyak.
2. Periksa pola makan dan aktivitas anak.
3. Catat kalau ada keluhan lain (cepat lelah, sering sakit, dan sebagainya).
4. Konsultasi ke dokter anak atau dokter kulit kalau merasa khawatir.
Yang paling kerasa buatku dari kolaborasi ini adalah perasaan “nggak sendirian”. Dari konten sederhana tentang uban anak, akhirnya kebuka diskusi soal kesehatan, pola asuh, sampai ke sudut pandang keagamaan seperti uban dalam Islam. Ternyata, hal kecil yang kita alami di rumah bisa jadi bahan belajar bareng dan saling menguatkan sesama IRT. Jadi kalau kamu juga punya cerita soal uban—baik di anak maupun di diri sendiri yang masih muda tapi sudah banyak uban—boleh banget dibagi. Siapa tahu pengalamanmu bisa bantu nenangin ibu lain di luar sana.
MasyaAllah uni udah kaya dokter aja🤩@Hilda Vegi