Hikayat Mitobotani merupakan catatan perjalanan yang tumbuh dari keterlibatan langsung dengan lanskap tumbuhan: pepohonan, akar, dan narasi-narasi mitologis yang masih hidup dalam ruang sehari-hari. Buku ini tidak semata-mata memetakan lokasi atau jenis flora, tapi juga menelusuri bagaimana ingatan dan pengalaman manusia terjalin erat dengan alam.
Ulasan📗:
Dalam setiap babnya, akan kamu temukan informasi yang beragam dan syarat makna. Bagaimana manusia terkoneksi dengan alam, dan kisah-kisah dibaliknya.
Ingatanku bahkan sempat dibawa kembali, ketika Alm. Ayah sering bercerita soal pohon kepuh dan hubungannya dengan tempat yang wingit (angker). Sebagai orang Jawa tulen, jujur buku ini sangat menghangatkan hati dan membuatku semakin banyak tahu mengenai alam tempat makhluk hidup bertumbuh.
Bab pertama akan kamu temukan topik menyoal ayam bekisar, lalu lompat menuju pohon randu alas. Tak hanya itu, dengan tutur yang apik ini. Kalian juga mendapat referensi bacaan lainnya. Berasa membaca 1 buku dan mengetahui buku lainnya✨👍🏻.
Sangat cocok dibaca sambil menikmati hujan☕🌧️
2025/11/9 Diedit ke
... Baca selengkapnyaPertama kali lihat sampul hijau Hikayat Mitobotani, jujur aku kira ini bakal jadi bacaan berat. Tapi begitu mulai membaca, ternyata bahasanya cukup mudah diikuti dan terasa sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari. Buku setebal 210 halaman ini benar-benar mengajak kita melakukan "kerja-kerja perawatan ingatan" lewat tumbuhan di sekitar, dari pohon besar sampai tanaman pot di teras rumah.
Yang bikin aku betah adalah cara penulis menjelaskan hubungan manusia dengan alam lewat contoh yang konkret. Misalnya ketika membahas pohon, akar, dan mitologis, aku jadi ingat tanaman-tanaman di rumah sendiri. Tanaman bunga krokot (Portulaca oleracea L) di pot kecil yang kelihatan sepele, tiba-tiba terasa punya cerita baru setelah aku membaca bagian tentang makhluk-makhluk yang tumbuh di tanah yang keras dan kering. Begitu juga bab "YANG SEKARAT DI TANAH KAPUR" – dari judulnya saja sudah mengundang rasa penasaran soal bagaimana tumbuhan dan manusia bertahan hidup di lahan yang tidak ramah.
Selain memetakan lanskap tumbuhan, buku ini kaya akan informasi menarik yang tersebar di tiap halamannya. Ada semacam sensasi menemukan harta karun ketika membuka halaman yang bertuliskan "Banyak info menarik di dalam buku ini". Referensi bacaan lain yang disebutkan juga membantu kalau kamu ingin memperdalam tema tertentu, jadi terasa seperti membaca satu buku tapi dapat rekomendasi ke banyak buku lainnya.
Secara emosional, Hikayat Mitobotani jadi sarana nostalgia. Ingatanku sering ditarik balik ke cerita Alm. Ayah tentang pohon kepuh dan tempat yang wingit. Sebagai orang Jawa, narasi soal tempat angker, pepohonan tua, dan mitos di kampung seperti dipelihara lagi lewat tulisan-tulisan di buku ini. Rasanya hangat, sekaligus mengingatkan bahwa ingatan keluarga kita sering menempel pada lanskap tumbuhan tertentu.
Buku ini juga mengubah cara aku melihat tanaman di rumah. Tumpukan bunga telang kering di dapur, hasil olahan kebun sendiri, sekarang terasa bukan cuma bahan teh atau pewarna alami, tapi juga bagian dari perjalanan ingatan dan perawatan alam versi kecil di rumah. Membaca Hikayat Mitobotani sambil menikmati hujan dan secangkir teh telang dari kebun sendiri itu kombinasi yang pas: pelan, kontemplatif, dan penuh rasa syukur.
Kalau kamu tertarik dengan ekologi, sastra, atau sekadar ingin memahami hubungan manusia dengan alam lewat cerita, Hikayat Mitobotani bisa jadi teman baca yang kuat. Tidak harus punya latar belakang akademis; cukup rasa ingin tahu dan kesabaran menikmati tiap bab, dari ayam bekisar sampai pohon randu alas. Di situ pelan-pelan kamu akan sadar, ternyata banyak ingatan dan pengalaman kita yang diam-diam dirawat oleh pohon, akar, dan lanskap tumbuhan di sekitar.