1 foto dari rol kamera
Sebagai seseorang yang juga pernah menikmati jajanan tradisional khas pasar seperti Pasar Manggis, saya merasa jajanan pada era 1970an membawa kenangan tersendiri yang sulit dilupakan. Jajanan seperti Kue Putu yang harganya hanya Rp.10 perak per biji, atau Es Mambo yang sejuk dan hanya Rp.20 perak, menjadi favorit anak-anak sekolah kala itu. Selain rasa yang autentik dan harga yang sangat terjangkau, jajanan ini juga mewakili kekayaan budaya kuliner Indonesia yang sederhana namun sangat berkesan. Misalnya Kue Klepon, dengan isian gula merah cair dan balutan kelapa parut, selalu menjadi pilihan para anak-anak saat jam istirahat. Pengalaman pribadi saya pun tak lepas dari momen-momen membeli Pisang Goreng hangat yang renyah di luar dan lembut di dalam, hanya dengan Rp.20 perak. Cita rasa jajanan ini tidak hanya sekadar makanan, tapi juga simbol kebersamaan dan keceriaan masa kecil di lingkungan pasar tradisional. Memang, keadaan dan harga mungkin berubah seiring waktu, tetapi kenangan tersebut tetap hidup dan patut dilestarikan. Menyusuri kembali kisah jajanan anak SD di tahun 1970an memberi kita kesempatan untuk lebih menghargai sejarah kuliner lokal dan betapa jajanan tersebut turut membentuk identitas budaya Indonesia. Jika Anda pernah mengalami masa kecil di era tersebut atau tertarik dengan jajanan tradisional, Pasar Manggis bisa menjadi destinasi menarik untuk mengenang sekaligus menikmati rasa nostalgia yang begitu khas.
































