*BISAKAH KITA BERMAIN DI LEVEL INI?*
(Are we able to act at this level?)
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri -Hafizhahullah-
Sumber Animasi dari Kajian Tadzkiratus Saami’ No. 25
“Ikatlah Agar Ia Tidak Lepas*
youtube.com/watch?v=4sC7VFGmW8w
Dalam kehidupan sehari-hari, menghadapi konflik dan perbedaan pendapat memang tidak bisa dihindari. Namun, seperti yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, kemampuan untuk bersabar dan memaafkan merupakan tanda kebesaran hati dan keimanan yang tinggi. Memang, seringkali kita merasa berat untuk memaafkan ketika merasa dirugikan, atau menganggap bahwa permintaan maaf harus datang dari pihak lain terlebih dahulu. Tapi justru di sinilah letak ujian dan kebajikan yang sebenarnya. Dalam QS. Asy Syura ayat 43, Allah menegaskan bahwa orang yang memiliki kesabaran serta kemampuan untuk mengampuni adalah mereka yang memiliki sikap mulia dan kuat imannya. Imam As-Sa'di menjelaskan bahwa orang dengan akhlak seperti ini adalah pemilik karakter yang agung di mata Allah dan manusia. Mereka mampu menahan emosi, tidak terbawa nafsu amarah, serta menjaga lisan dari ucapan yang menyakiti. Memaafkan bukan berarti kita lemah atau kalah, melainkan justru melejitkan kehormatan diri. Dengan memaafkan, kita menunjukkan kedewasaan spiritual dan menghindarkan diri dari dendam yang bisa menimbulkan kerusakan batin. Selain itu, bersabar dan memaafkan juga membuka pintu rezeki dan ketenangan jiwa yang tidak ternilai. Dalam dunia yang penuh dengan rasa ego dan perselisihan, kemampuan untuk tetap berakhlak mulia dan mengedepankan rasa kasih sayang sangat dibutuhkan. Bentuk konkret mempraktikkan ajaran ini bisa dimulai dari hal kecil, seperti mengalah dalam perselisihan, menahan diri saat tersinggung, dan siap memberi maaf walaupun tidak diminta. Sikap seperti ini akan menciptakan lingkungan sosial yang harmonis dan memperkuat ikatan ukhuwah. Oleh karena itu, mari kita berupaya bermain di level tinggi akhlak ini seperti yang diajarkan dalam kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri—memupuk kesabaran, memperluas hati untuk memaafkan, dan membangun karakter yang mulia dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, tidak hanya kita meraih ridha Allah, tapi juga membawa manfaat besar bagi lingkungan sekitar kita.
































