anakku kesayanganku

dulu punya anak ke 4 bukan keinginan, tapi Qadaralloh sy diberi kepercayaan lg sm Allah memiliki anak ke 4 laki2 lagi, alhamdulillah seiring berjalannya waktu sibungsu ini punya hobi dan bakat beda dari kakak2nya, dari usia 3thn dia suka seni tari jaipong klasik, kesenian sunda, dan gamelan2 skrng usianya menginjak 13 tahun masih aktif menggeluti seni tari jaipong, sudah sy tawarin bakat2 yg lain semisal futsal, basket taekwondo,volly, tetep hatinya di seni tari....akhirnya sy ikutin keinginan dia, walaupun jati dirinya tetap sebagai lelaki sejati, tetap membawa tarian gagah namun luwes sesuai karakter yg diperankannya.. semoga pengalaman sy ini terinspirasi buat mmh2 kita sebagai orangtua janganlah memaksakan keinginan dan bakat anak, karna dengan hati anak senang, bakat dan hobi anak akan membuahkan hasil yang maksimal..kita sebagai orangtua tetap dukung bakat anak anak kita tetep kita dampingin sampai dia mampu berdiri sendiri..

#PengalamanKu

#GoodBye2025

#TipsLemon8

#keseniannusantara

2025/12/30 Diedit ke

... Baca selengkapnyaAwalnya aku kira kostum tari itu hanya soal baju bagus di panggung, tapi setelah beberapa kali menyiapkan kostum tari Andhira untuk anakku, baru kerasa banget kalau bagian ini juga penting buat perjalanan seni anak. Kostum yang nyaman dan sesuai karakter tarian bisa bikin anak lebih percaya diri di atas panggung. Anakku laki-laki dan suka tari Jaipong klasik, lengkap dengan mahkota dan riasan wajah. Jujur, dulu aku sempat mikir, "Apa nggak aneh ya anak cowok pakai kostum begini?" Tapi begitu aku lihat dia latihan, gerakannya gagah, luwes, dan matanya berbinar, rasa ragu itu pelan-pelan hilang. Aku mulai belajar bedain antara kostum tari sebagai bagian seni dengan identitas dirinya sebagai lelaki. Kalau kamu lagi cari kostum tari Andhira buat anak, pengalamanku: pertama, perhatikan bahan. Anak sering latihan dan tampil di bawah lampu panas, jadi cari bahan yang ringan, nggak bikin gatal, dan mudah menyerap keringat. Kedua, ukuran. Jangan cuma mikir bagus di foto; pastikan kostum pas di tubuh, tidak terlalu sempit di bahu dan pinggang, supaya gerakan Jaipong yang lincah tetap bebas. Aku juga terbiasa ngobrol dulu dengan anak sebelum milih kostum. Aku tanya, "Kamu nyaman nggak pakai mahkota ini?" atau "Bagian mana yang menurut kamu bikin gerak susah?" Dari situ aku tahu kalau dia lebih suka kostum yang membuatnya terlihat gagah, bukan yang terlalu banyak aksesoris mengganggu. Jadi saat pilih kostum tari Andhira, aku cari yang desainnya tetap mencerminkan seni Sunda dan karakter Jaipong, tapi masih terasa maskulin menurut dia. Di rumah, kami punya kebiasaan bikin "ritual kecil" sebelum tampil: aku bantu dia pakai kostum, cek detail seperti ikat pinggang, selendang, dan aksesori kepala, sambil ngomong hal-hal sederhana seperti "Kamu hebat kok" dan "Terus semangat". Ternyata kata-kata ini nempel banget di hati anak. Kostum jadi bukan sekadar pakaian tampil, tapi bagian dari momen kebersamaan. Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa orangtua memang perlu jadi pendamping, bukan pengatur. Termasuk soal kostum, jangan langsung menolak karena anak laki-laki pakai riasan atau kostum penuh dekorasi. Lihat dulu konteks seninya. Selama dia tetap paham jati dirinya, dan tarian yang dibawakan gagah serta sesuai karakter, nggak ada yang salah. Kalau kamu punya anak yang tertarik pada seni, entah tari Jaipong, gamelan, atau kesenian Sunda lainnya, cobalah sekali saja ikut dia pilih kostum. Rasakan prosesnya, tanya pendapat dia, dan hargai pilihannya. Percaya deh, ketika anak merasa didukung, satu napas dan satu langkah di atas panggung bisa jadi momen "Real Moments" yang nggak akan kita lupakan sebagai orangtua.

1 komentar

Gambar dipypopi
dipypopi

👍