Allah benci sama orang yg sombong

Allah paling benci sama sifat sombong ya. Karena sombong = ngerasa lebih dari orang lain, padahal kita semua dari tanah.

*1. Versi Nasihat / Pengingat*

“Sombong itu baju Allah. Siapa yang makai, Allah akan robek.”

“Setinggi apapun jabatanmu, sedalam apapun ilmumu... asalmu tetap dari setetes air dan ujungnya ke liang lahat.”

“Bumi yang kamu injak pun suatu hari akan menimbun jasadmu. Jadi sombong sama siapa?”

*2. Versi Qur'an & Hadits*

Allah berfirman:

_“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong. Karena sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung.”_ QS. Al-Isra: 37

Rasulullah ﷺ bersabda:

_“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.”_ HR. Muslim

*3. Versi Realita Hidup*

“Hari ini kamu di atas, bisa jadi besok di bawah. Jangan sombong.”

“Ilmu tanpa adab = sombong. Harta tanpa sedekah = sombong. Jabatan tanpa amanah = sombong.”

“Orang sombong itu seperti orang naik ke atas gunung. Dia lihat orang lain kecil. Padahal orang lain juga lihat dia kecil.”

*4. Versi Singkat buat Status*

“Sombong? Nanti juga dikubur.”

“Tanah tempat pijakanmu, akan jadi tempat kembalimu.”

“Rendah hati itu berat. Tapi surga lebih berat lagi.”

“Kesombongan adalah awal dari kejatuhan.”

*5. Versi Doa Penjauh Sombong*

“Ya Allah, jauhkan kami dari sifat sombong, ujub, dan riya. Jadikan kami hamba yang tawadhu dan pandai bersyukur. Aamiin”

*Ciri-ciri sombong yang sering nggak sadar:*

1. *Sombong ilmu* → Meremehkan orang yang “kurang tau”

2. *Sombong harta* → Pamer & merendahkan orang susah

3. *Sombong ibadah* → Merasa paling sholeh, lalu menghakimi orang

4. *Sombong nasab/jabatan* → “Tau saya siapa?”

Ingat: Iblis diusir dari surga bukan karena maksiat, tapi karena 1 kata: _“Aku lebih baik darinya”_

Semoga kita dijaga Allah dari sifat ini ya 🤲

Mau aku bikinin versi *kata-kata tentang tawadhu/rendah hati* juga biar jadi pasangannya?

7/28 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai pengalaman pribadi yang saya alami, kesombongan sering kali muncul tanpa disadari, terutama ketika kita mulai merasa unggul dalam satu aspek kehidupan, seperti pekerjaan, ilmu, atau status sosial. Saya pernah bertemu dengan seseorang yang sangat sombong karena ia merasa dirinya lebih sukses dan pintar dibandingkan teman-temannya. Namun, seiring waktu, saya melihat bagaimana kesombongan itu justru menjadi titik awal kehancurannya, karena kehilangan rasa empati dan kerendahan hati yang seharusnya melekat pada setiap insan. Dalam kehidupan sehari-hari, nasihat dari ayat QS. Al-Isra: 37 yang mengingatkan kita untuk tidak berjalan di muka bumi dengan kesombongan sangat relevan. Kalimat "Karena sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung" menggambarkan betapa terbatasnya kita sebagai manusia. Saya sering mengingat pepatah "Sombong itu seperti baju Allah, siapa yang memakainya, Allah akan robek" yang menggambarkan konsekuensi serius bagi orang yang memelihara sifat ini. Salah satu pengalaman yang menguatkan saya untuk selalu menjaga tawadhu adalah saat saya menghadapi tantangan besar dalam karier. Saat itu, saya menyadari bahwa ilmu tanpa adab itu tidak membawa kebaikan, justru menimbulkan kesan sombong. Sebaliknya, ketika saya mencoba bersikap rendah hati, menghargai orang lain dan berbagi ilmu dengan tulus, hubungan saya dengan rekan kerja menjadi lebih harmonis dan saya merasa lebih tenang. Ciri-ciri sombong yang disebutkan dalam artikel seperti sombong ilmu, harta, ibadah, dan nasab memang sering tidak disadari. Saya sendiri pernah merasa remeh terhadap orang yang kurang pengalaman, dan itu adalah bentuk kesombongan ilmu. Sikap seperti ini bisa memisahkan kita dari rasa empati dan membuat kita terjebak dalam ego. Doa penjauh dari sifat sombong "Ya Allah, jauhkan kami dari sifat sombong, ujub, dan riya. Jadikan kami hamba yang tawadhu dan pandai bersyukur" sangat saya amalkan dalam praktik sehari-hari. Dengan berdoa dan berusaha selalu introspeksi, saya merasa setiap langkah menjadi lebih ringan dan hati lebih bersih. Akhirnya, saya ingin menekankan bahwa kesombongan bukan hanya soal perasaan lebih dari orang lain, tetapi juga bagaimana sikap kita dalam memperlakukan sesama. Melakukan refleksi diri dan mengingatkan diri akan asal kita dari tanah dan akan kembali ke tanah, seperti disebutkan dalam artikel dan gambar yang berbunyi "Jangan berjalan dimuka bumi dengan penuh kesombongan dan congkak karena sebentar lagi engkau akan masuk ke dalam bumi juga", sangat membantu saya menjaga hati tetap tawadhu sepanjang waktu.