KESERAKAHAN KAPITALISME BIANG KERUSAKAN
Sebagai seseorang yang sering mengikuti perkembangan isu lingkungan, saya merasa penting untuk menyoroti bagaimana pernyataan pemimpin negara mengenai perkebunan kelapa sawit bisa memengaruhi tindakan nyata di lapangan. Pernyataan yang menyebut sawit sebagai pohon yang sama dengan hutan tropis dapat menyesatkan banyak pihak, terutama pengusaha sawit, sehingga mereka merasa sah melakukan pembabatan hutan untuk diperluas menjadi kebun sawit. Padahal, berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kebun sawit bukanlah hutan. Praktik monokultur sawit yang ekspansif dan sering non-prosedural telah menyebabkan beragam masalah ekologis dan sosial, termasuk kerusakan habitat, banjir, dan longsor. Hal ini menjadi pengalaman pahit bagi masyarakat lokal yang terdampak bencana akibat hilangnya fungsi hutan sebagai penyangga alam. Dalam pengalaman saya, menggunakan media sosial sebagai wadah kampanye untuk menjaga hutan dan menolak ekspansi sawit ilegal sangat penting. Alih-alih hanya membahas isu yang kurang penting, lebih baik kita menyebarkan kesadaran akan pentingnya hutan bagi keseimbangan lingkungan dan masa depan anak cucu. Saya juga mengingatkan bahwa berpikir kritis dan memverifikasi fakta dari sumber ahli sebelum menyebarkan informasi sangat krusial agar tidak terjebak pada kesalahan informasi yang berpotensi memperparah kondisi lingkungan. Keserakahan dalam kapitalisme yang tak terkendali harus menjadi perhatian bersama, terutama ketika hal tersebut mengancam kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat. Pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa menyuarakan isu lingkungan dan mendukung upaya pelestarian hutan dapat memberikan dampak positif, sekaligus menahan laju kerusakan yang semakin parah.







































