Rahasia di Malam Takbir
Dibunuh atau membunuh, hanya itu yang terlintas di dalam pikiranku, saat tangan Rahmat mencekik leherku. Aku berusaha sekuat tenaga melawannya, tapi Rahmat yang sudah mabuk berat dan seperti di rasuki setan, terus menyiksaku.
Di saat napasku sudah di ujung lidah, mataku sudah memerah, aku berusaha menggapai sebuah cermin kecil yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Lalu cermin itu aku pukulkan di kepala Rahmat.
Rahmat lalu melepaskan tangannya di leherku, di saat itulah aku berlari ke dapur dan mengambil pisau yang ada di atas meja. Di pikiranku hanya satu yaitu membunuhnya.
#
“Pembunuh … pembunuh… !” teriakan keluarga Rahmat di pengadilan membuat Aisyah tertunduk sedih. Tidak ada lagi kata-kata yang terucap dari bibirnya, hanya air mata yang menggambarkan betapa hancur dan rapuh hatinya.
“Tenang … tenang … !” teriak Hakim sambil memukulkan beberapakali palu sidangnya ke meja pengadilan.
“Hukum seberat-beratnya, dasar pembunuh!” teriak Ranti_adik perempuan Rahmat.
“Tenang … atau pengadilan kita lanjutkan nanti,” ucap Hakim yang kembali memukul palu sidangnya untuk mencoba menenangkan peserta sidang yang sudah riuh sejak Aisyah maju memberikan kesaksiannya.
##
“Untuk apa anak pembunuh itu ada di rumah ini, Fatur!” bentak Bu Zaskia_ibu kandung Fatur.
“Ibu. Fatur mohon kecilkan suaranya, kasihan anak itu.” Fatur menatap iba ke arah Mimi, anak Aisyah yang berusia 4 tahun itu.
“Kasihan? Ibunya saja bisa membunuh begitu? Kamu bilang kasihan!?” tunjuk Bu Zaskia ke Mimi.
Mimi yang masih kecil, yang belum mengerti apa-apa hanya bisa memeluk Yuli dengan wajah ketakutannya.
“Kamu dengar yah, anak itu mengalir darah seorang pembunuh. Besok-besok, ia bisa membunuh kalian juga!” Bu Zaskia kembali membentak Fatur.
Yuli tidak bisa berkata apa-apa, karena posisi dia hanyalah seorang menantu, apalagi perkawinannya yang sudah lima tahun belum juga di karunia seorang anak.
“Ibu!” Mau tidak mau Fatur agak meninggikan nada suaranya. “Kita sebagai manusia tidak seharusnya menghakimi sesama.”
“Terserah kalian. Ibu tidak bertanggung jawab, kalau besok lusa anak itu bikin ulah.” Bu Zaskia beranjak dari kursi.
“Iya Bu. Apapun yang terjadi, semua akan jadi tanggung jawab Fatur. Aku dan Yuli sudah sepakat untuk merawatnya,” tegasnya sambil menatap Yuli dan Mimi bergantian.
##
Dengan di ketuknya palu sidang sebanyak tiga kali, maka sidang kasus pembunuhan yang telah di lakukan Aisyah telah selesai dan Hakim memutuskan hukuman penjara selama 5 tahun untuk Aisyah.
Suara teriakan dari keluarga Rahmat terdengar di dalam ruangan persidangan. “Tidak adil!” teriak salah satu keluarga Rahmat.
“Hukumannya harus mati!” Ranti berteriak dan maju ke depan berusaha menghadang Aisyah yang telah berdiri dan di pegangi petugas.
Ranti yang berniat ingin melukai Aisyah segera di cegat dengan petugas. “Lepaskan! Dasar pembunuh! Wanita munafik!” Kata-kata hinaan keluar dari mulut Ranti..
“Aisyah. Kami minta maaf, hanya ini yang bisa kami lakukan untukmu,” ucap Fatur berusaha tersenyum walau hatinya teramat kecewa dengan hasil keputusan pengadilan, setidaknya hukuman untuk Aisyah masih lebih baik dari hukuman mati.
“Terima kasih. Aku titip Mimi.” Hanya dua kalimat yang terucap dari bibir yang masih terlihat lebam dan biru.
“Kami akan menjaga Mimi untukmu,” jawab Yuli yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Dua petugas kemudian membawa Aisyah melewati pintu samping menuju tempat parkir di mana mobil tahanan sudah menunggu.
Di luar ruangan para keluarga korban masih terus meneriaki Aisyah yang sudah di dalam mobil tahan.
Di balik kaca mobil yang berteralis, Aisyah memandangi satu persatu keluarga Rahmat, keluarga yang tidak pernah bisa mengerti keadaanya, keluarga yang tidak mau tahu jiwa dan raganya teraniaya.
“Mimi, anakku,” rintih Aisyah kala mengingat anaknya yang tidak bisa lagi di temuinya sejak ia di tahan.
##
Di dalam penjara, Aisyah harus mengalami banyak kejadian termasuk perkelahian anta narapidana wanita dan Aisyah harus kehilangan anak yang sedang di kandungannya.
Aisyah bertahan menjalani hukuman selama 5 tahun tanpa ia tahu jika anak yang di titipkannya ke Fatur dan Yuli mengalami suatu tragedi dan semuanya terungkap, jika di malam takbir itu pembunuh sebenarnya bukanlah Aisyah.
Melainkan....
🪸🪸🪸
Baca selengkapnya di Aplikasi KBM
Judul : Rahasia di Malam Takbir
Penulis : AndiRisma
Rahasia di Malam Takbir menghadirkan kisah dramatis yang menggambarkan tekanan psikologis korban kekerasan dalam rumah tangga, serta dinamika keluarga yang terpecah oleh peristiwa pembunuhan. Cerita ini menyoroti bagaimana trauma dan ketidakadilan pengadilan bisa berdampak mendalam pada kehidupan para pihak yang terlibat. Kisah Aisyah yang disiksa oleh suaminya, Rahmat, diwarnai dengan ketegangan dan keputusasaan yang memuncak hingga ia terpaksa membela diri dengan mengambil nyawanya. Ini menunjukkan realitas pahit kekerasan dalam rumah tangga yang masih menjadi isu penting di Indonesia. Dalam konteks hukum, hukuman penjara lima tahun yang dijatuhkan pada Aisyah memicu pro dan kontra dari berbagai pihak, menimbulkan perdebatan tentang keadilan serta pertimbangan hakim dalam kasus pembelaan diri. Selain itu, cerita ini mengangkat stigma sosial terhadap anak-anak yang lahir dari orang tua yang terlibat kasus kriminal. Konflik antara Bu Zaskia dan Fatur mengenai perawatan Mimi, anak Aisyah, menggambarkan bagaimana prasangka dan diskriminasi dapat merundung generasi berikutnya, meskipun mereka tidak bersalah. Kisah ini juga menyentuh kondisi sulit dalam penjara bagi narapidana wanita, termasuk perkelahian dan kehilangan jabang bayi di kandungan Aisyah, yang menambah lapisan kesedihan dan perjuangan hidupnya. Penekanan pada rahasia sebenarnya tentang siapa pembunuh yang sesungguhnya menciptakan ketegangan cerita yang mampu menarik perhatian pembaca, serta mengajak mereka untuk merenungkan nilai keadilan dan kebenaran. Malam Takbir sebagai latar waktu memberikan keunikan tersendiri karena hari tersebut biasanya identik dengan sukacita dan kebersamaan umat Muslim menyambut Idul Fitri. Namun, dalam cerita ini, malam itu justru menjadi saksi bisu tragedi dan rahasia yang kelam, memperlihatkan sisi lain kehidupan yang jarang terungkap. Dengan mengangkat tema kekerasan rumah tangga, ketidakadilan hukum, stigma sosial, dan perjuangan narapidana wanita, artikel ini sangat relevan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan terhadap korban dan keadilan yang seimbang dalam sistem hukum. Pembaca bisa mendapatkan perspektif yang lebih luas tentang dampak sosial dan psikologis dari sebuah tragedi, sekaligus mendorong empati dan pemahaman yang lebih dalam terhadap isu-isu tersebut.
