... Baca selengkapnyaJujur, dulu aku paling malas yang namanya introspeksi diri. Rasanya nggak enak banget kalau harus mengakui sifat buruk sendiri. Tapi ternyata kunci hijrah mental justru dimulai dari situ: muhasabah atau introspeksi diri.
Biasanya malam sebelum tidur, aku sediakan 5–10 menit khusus untuk mengevaluasi diri. Aku tulis di catatan HP: hari ini aku ngomong apa saja, sikapku ke orang tua gimana, ada nggak kata-kata yang nyelekit ke teman, atau pikiran negatif yang kebanyakan. Dari situ kelihatan banget pola sifat toxic-ku: suka gibah, mudah suudzon, dan sering menunda kebaikan.
Introspeksi diri (muhasabah) menurut Islam bukan cuma mikir, tapi juga jujur menilai: sifat ini mendekatkan aku ke Allah atau malah menjauhkan? Misalnya, kalau aku iri sama pencapaian teman, aku tanya ke diri sendiri: "Iri ini bikin aku makin rajin berusaha atau cuma sibuk ngomel di hati?" Kalau jawabannya cuma bikin hati kotor, berarti itu tanda harus dibersihkan.
Setelah muhasabah, biasanya aku lanjut ke taubat nasuha. Bukan sekadar bilang "astagfirullah" lalu diulang lagi, tapi benar-benar berhenti dari kebiasaan buruk, menyesal, dan niat kuat untuk nggak ngulangin. Contoh kecilnya, aku pernah berniat stop gibah. Awalnya susah, karena circle pertemanan memang hobi bahas orang. Jadi aku mulai dari hal praktis: kalau obrolannya sudah mulai ke arah ngomongin orang, aku alihin topik atau pura-pura sibuk dengan ponsel.
Lalu aku belajar muraqabah: merasa diawasi Allah setiap saat. Ini ngebantu banget buat ngerem diri. Saat mau kirim chat yang pedes, aku tahan dulu beberapa detik dan ingat, "Allah lihat, malaikat catat." Kebiasaan sederhana ini pelan-pelan bikin responku lebih terkontrol.
Mujahadah, perjuangan lawan hawa nafsu, rasanya memang melelahkan. Tapi aku sadar, sifat toxic nggak bakal hilang kalau aku selalu nurutin ego. Jadi ketika pingin balas sindiran, aku coba pilih diam. Ketika pingin pamer di media sosial, aku cek dulu niatnya: mau menginspirasi atau cuma cari validasi?
Terakhir, yang paling bikin hati adem adalah doa dan tawakkal. Setelah usaha introspeksi diri, jaga lisan, dan lawan hawa nafsu, aku sering baca doa: "Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika" – Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu. Doa ini jadi pengingat bahwa hati bisa berubah kapan saja, makanya aku butuh terus terhubung dengan Allah.
Buat kamu yang lagi proses hijrah mental, nggak apa-apa kalau jalannya pelan. Yang penting setiap hari ada sedikit muhasabah: tulis minimal satu sifat buruk yang ingin dikurangi dan satu langkah kecil yang bisa kamu lakukan besok. Introspeksi diri yang konsisten, dibarengi taubat nasuha, muraqabah, mujahadah, plus doa dan tawakkal, insyaAllah pelan-pelan bisa bikin sifat toxic berkurang dan hati lebih tenang.
semoga Alloh istiqomahkan kita semua dijalanNya