Nyesel Banget! Niat Nglindungin Malah Bikin Anak Trauma? 😭💔

Hai Lemonade 🍋

​✨ Pillow Talk & Turunin Gengsi

Pas anak mau tidur, aku peluk dan bilang,

(Maaf): "Umi minta maaf tadi marah sama kamu."

(Validasi): Umi tahu kamu sedih dan marah karena Umi larang main sama Kakak itu. Pasti gak enak ya rasanya dilarang pas lagi pengen main." (Tunggu anak merespons atau mengangguk)

(Alasan): "Umi tadi takut banget karena mainnya pukul-pukulan dan berbahaya. Umi sangat sayang sama kamu, Umi gak mau kamu terluka atau sakit."

​(Solusi) "Besok-besok, kalau kamu mau main, kita main mobil-mobilan di rumah sama Umi, atau kita cari teman lain yang mainnya aman dan baik ya?"

​✨ Fokus ke Aksinya, Bukan Orangnya

Aku gak menjelekkan si anak itu, tapi bilang, "Main pukul-pukulan itu sakit, jadi kalau dia mulai mukul, kamu jangan deket-deket."

​✨ Jadi 'Bodyguard' Kalem

Sekarang kalau dia main di luar, aku ikut nongkrong di dekatnya biar bisa langsung cut kalau mulai bahaya.

Menjadi ibu itu bener-bener ujian kesabaran yang gak ada habisnya ya, Moms. Kadang niat kita mau melindungi anak dari bahaya. Tapi karena panik, malah emosi yang keluar dan berujung marahin anak sendiri.

​Rasa bersalah setelah ngeliat anak nangis itu rasanya nyesek banget. Tapi dari kejadian ini, aku belajar kalau anak 4 tahun belum paham konsep 'bahaya', mereka cuma tahu 'seru'. Tugas aku adalah pelan-pelan kasih tahu batasannya tanpa menjaga jarak emosional dengan anak.

​Cerita dong Moms, pernah gak ngalamin hal yang sama? Saling menguatkan di kolom komentar yuk! 👇❤️ #RealitaDewasa #risingstar #momslife #parentingtips #ngontenbareng

6/24 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai orang tua, menjaga anak terutama yang masih kecil memang seringkali menjadi tantangan tersendiri. Saya juga pernah mengalami situasi di mana niat ingin melindungi anak dari bahaya justru membuatnya merasa sedih atau trauma. Contohnya, ketika anak saya yang berusia 4 tahun sedang asyik bermain dengan teman yang lebih besar, saya merasa khawatir akan cara bermain yang bisa berbahaya, seperti pukul-pukulan. Awalnya saya langsung melarang dan marah supaya ia tidak bermain dengan temannya. Tapi kemudian saya menyadari efeknya, anak saya menjadi menangis dan merasa sangat sedih. Dari pengalaman tersebut, saya belajar pentingnya untuk tidak hanya melarang berdasarkan rasa takut atau panik, melainkan juga menjelaskan alasan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak. Misalnya, saya mencoba memvalidasi perasaannya dan mengatakan bahwa saya sayang sekali dan ingin agar dia tetap aman tanpa melukai perasaannya. Dengan cara ini, anak bisa lebih paham dan menerima batasan yang saya beri tanpa merasa dijauhi. Selain itu, saya menghindari menjelekkan teman anak sebagai orang, dan lebih fokus pada perilaku atau aksi yang berbahaya. Contohnya saya bilang, "Main pukul-pukulan itu sakit, jadi hati-hati dan jangan dekat-dekat kalau mereka mulai pukul-pukulan." Ini membantu anak belajar membedakan antara orang dan perilaku yang tidak boleh ditiru. Memang jadi orang tua adalah ujian kesabaran yang tiada habisnya, tapi mengasuh dengan hati-hati dan deskripsi yang hangat ternyata jauh lebih efektif untuk membangun hubungan emosional yang kuat dengan anak. Saya juga belajar untuk selalu menemani saat anak bermain di luar agar bisa segera bertindak jika ada kemungkinan bahaya tapi tetap memberikan ruang baginya untuk bersenang-senang. Moms, jika kalian pernah mengalami hal serupa, saya sangat menyarankan untuk tidak langsung marah ketika anak melakukan sesuatu yang menurut kita berisiko, tapi cobalah untuk menjelaskan dan berkomunikasi dengan penuh kasih sayang. Ini akan membantu anak memahami batasan tanpa kehilangan rasa percaya dan kasih sayang kepada kita. Semoga cerita dan tips ini bisa menjadi penguat bagi para ibu di luar sana dalam menghadapi tantangan mengasuh anak usia dini.

2 komentar

Gambar Faizah Sf 🍀
Faizah Sf 🍀

kalo aku marah sama anak bukan karena dia mainnya gesit kk, lebih ke emosi kalo dia tantrum, orang rumah ikutan tantrum ke aku 😭

Lihat lainnya(1)