seri kisah nabi musa berguru kepada khidir
Waktu pertama kali benar-benar mendalami kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, aku baru ngeh kalau cerita ini tuh dekat banget dengan kehidupan sehari-hari kita. Bukan cuma soal mukjizat atau keajaiban, tapi soal rasa lelah, kantuk, lupa, sampai rasa penasaran yang nggak ketahan. Dalam beberapa riwayat diceritakan, Musa dan pendampingnya (sering disebut Yusya’ bin Nun) melakukan perjalanan jauh. Di tengah perjalanan, Musa berkata kurang lebih, “Kalau kamu ingin tidur, tidurlah sejenak wahai Musa,” menggambarkan kondisi mereka yang sangat lelah. Pendampingnya pun sempat bilang akan berjaga, memperhatikan keadaan, dan membangunkan Musa kalau ada sesuatu yang terjadi. Kalimat seperti “Aku istirahat dulu, beritahu aku jika ada sesuatu” itu terasa banget kayak dialog kita kalau lagi traveling bareng teman. Di sinilah terjadi peristiwa ikan yang dibawa mereka. Ikan itu tiba-tiba hidup kembali dan berjalan menuju laut dengan cara yang aneh. Pendamping Musa sampai merasa, “aneh sekali cara berjalan ikan itu,” tapi karena kelelahan dan kantuk yang berat, akhirnya dia tertidur lagi dan lupa menyampaikan keanehan itu kepada Musa. Bagian “akhirnya Yusa tertidur kembali, lupa menyampaikan kepada Musa” ini bikin aku refleksi: ternyata lupa karena lelah itu manusiawi banget, bahkan dialami oleh orang-orang saleh. Saat Musa akhirnya bertemu dengan Khidir, ada tiga peristiwa besar: perahu yang dilubangi, anak kecil yang dibunuh, dan tembok yang ditegakkan di sebuah kampung yang pelit. Kalau dipikir pakai logika biasa, tindakan Khidir itu seperti tidak masuk akal. Musa pun protes beberapa kali karena merasa apa yang dilakukan tidak sesuai dengan keadilan yang ia pahami. Di sini aku merasa dia mewakili kita: seringkali kalau ada hal "aneh" dalam hidup (musibah, kehilangan, rencana gagal), kita spontan protes dalam hati, "Kenapa begini?" Tapi di akhir kisah, Khidir menjelaskan satu per satu alasan di balik perbuatannya: perahu dilubangi untuk menyelamatkan dari raja zalim, anak yang dibunuh akan diganti dengan yang lebih baik imannya, dan tembok yang ditegakkan itu melindungi harta anak yatim yang saleh. Di situ aku baru sadar, kadang Allah melindungi kita dengan cara yang di depan mata kelihatan buruk. Seperti doa “semoga Allah melindungi kita” yang sering kita ucapkan, tapi kita lupa bahwa bentuk perlindungan itu bisa berupa kejadian yang tidak kita suka. Pelajaran yang paling kuat buatku dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir: 1. Sabar dalam belajar Musa saja diingatkan untuk sabar dan tidak tergesa-gesa dalam menilai. Aku jadi mikir, dalam belajar agama atau ilmu apa pun, jangan gampang merasa paling tahu. Bisa jadi ada hikmah yang belum kita lihat. 2. Jangan cepat menghakimi Apa yang tampak buruk, seperti perahu dilubangi atau rencana kita "dirusak", bisa saja justru sedang menyelamatkan kita dari bahaya yang lebih besar. Sejak paham ini, setiap ada hal yang tidak sesuai keinginanku, aku coba tarik napas dulu dan bilang, “Mungkin ini petunjuk, mungkin ada kebaikan yang belum aku lihat.” 3. Manusiawi untuk lelah dan lupa Dialog-dialog seperti, “Aku yang akan berjaga di sini, baiklah aku istirahat dulu,” lalu akhirnya tertidur dan lupa menyampaikan sesuatu, bikin aku merasa lebih relate. Bahkan orang-orang pilihan pun mengalami kantuk, lelah, dan lupa. Bedanya, mereka cepat kembali ingat kepada Allah dan menjadikannya pelajaran. Kalau kamu lagi di fase hidup yang banyak hal terasa "aneh" atau nggak sesuai ekspektasi, kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ini cocok banget dijadikan bahan renungan. Bacanya pelan-pelan, sambil bayangin dialognya seperti percakapan manusia biasa: lelah, istirahat, lupa, lalu sadar lagi. Dari situ, doa sederhana seperti “semoga Allah melindungi kita” jadi terasa lebih dalam maknanya, bukan sekadar kalimat lewat di bibir.




















































