Ilmuwan Ini Menemukan Islam Lewat Sains
Waktu pertama kali dengar kisah ilmuwan yang menemukan Islam lewat sains dan merenungkan keteraturan alam semesta, aku jadi kepikiran satu hal penting: dalam Islam, ilmu itu bukan cuma untuk dikagumi atau didebatkan, tapi untuk diamalkan. Sains bisa mengantarkan seseorang mengenal kebesaran Allah, tapi kalau berhenti di pengetahuan saja tanpa mengubah perilaku, maka tujuan ilmu dalam Islam belum tercapai. Dalam banyak kasus, kita sering melihat seorang sarjana agama atau orang yang punya pemahaman kuat tentang ajaran Islam, tapi dalam kehidupan sosial justru terlibat dalam praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ia ketahui. Di sinilah relevan pertanyaan tentang kewajiban menuntut dan mengamalkan ilmu dalam Islam, serta bahaya ilmu tanpa pengamalan bagi moral dan sosial. Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban, tapi kewajiban itu sebenarnya berlanjut pada tahap berikutnya: mengamalkan. Ilmu yang benar semestinya membuat seseorang semakin takut kepada Allah, semakin jujur, dan semakin menjaga diri dari maksiat. Ketika seorang sarjana agama mengerti bahwa riba itu haram, ghibah itu dosa, dan amanah itu wajib dijaga, tetapi tetap melakukan kebalikannya, maka ilmu itu justru berbalik menjadi hujjah (argumen) yang memberatkan dirinya. Dari sisi moral, ilmu tanpa pengamalan melahirkan kemunafikan sikap: satu sisi tahu mana yang benar, sisi lain sengaja melanggar. Ini bisa mengeraskan hati, karena setiap kali melanggar apa yang sudah diketahui, hati terbiasa untuk tidak peduli. Lama-lama ilmu hanya berhenti di kepala, tidak menyentuh hati dan perilaku. Akhirnya, muncul sosok yang pintar berbicara tentang agama, pandai mengutip dalil, tetapi perkataan dan perbuatannya bertolak belakang. Dampaknya secara sosial juga besar. Masyarakat biasanya menjadikan orang berilmu, apalagi sarjana agama, sebagai panutan. Kalau mereka yang paham agama justru terlibat korupsi, kecurangan, atau pergaulan yang tidak sesuai syariat, maka kepercayaan masyarakat terhadap ajaran Islam bisa goyah. Orang awam bisa jadi sinis dan berkata, "Untuk apa belajar agama tinggi-tinggi kalau kelakuannya begitu?" Dalam skala lebih luas, ini menimbulkan krisis keteladanan dan merusak citra lembaga keagamaan. Ilmu tanpa pengamalan juga membuka pintu kezaliman. Orang berilmu punya kemampuan menggunakan ayat atau hadis untuk membenarkan tindakan yang salah, memanipulasi opini, atau menekan orang lain. Ketika ilmu dijadikan alat kepentingan pribadi, maka kerusakan moral dan sosial akan semakin parah, karena yang rusak bukan hanya perilaku, tapi juga standar benar-salah di mata masyarakat. Pengalaman pribadi, ketika aku mulai belajar sedikit demi sedikit tentang keteraturan ciptaan Allah—seperti jarak bumi dan matahari, posisi bulan, dan keajaiban big bang yang sering disebut ilmuwan—aku merasa malu kalau hidupku tidak semakin tertib dan taat. Kalau alam saja tunduk pada ketentuan Allah, masa manusia yang diberi akal dan ilmu justru seenaknya melanggar? Dari sini aku belajar, ilmu yang benar seharusnya menumbuhkan rasa tanggung jawab. Jadi, kewajiban menuntut dan mengamalkan ilmu dalam Islam saling terkait erat. Ilmu adalah petunjuk jalan, sedangkan amal adalah langkah kaki yang mengikuti petunjuk itu. Ketika petunjuk sudah jelas tapi tidak diikuti, maka tersesatnya justru semakin jauh. Karena itu, yang perlu terus diingat bukan hanya "seberapa banyak ilmu yang kita tahu", tetapi "seberapa jauh ilmu itu mengubah akhlak, ibadah, dan interaksi sosial kita".

































