Siapa nih yang tertipu cover?? 😭😭
Visualnya gemes, tapi isinya 'nampar' halus! 📖✨
Pertama kali lihat kover I Want to Die But I Want to Eat Tteokbokki, pasti banyak yang mengira ini novel ringan atau komik santai. Tapi pas dibaca, ternyata isinya dalam banget!
Buku ini merangkum percakapan nyata antara penulis dan psikiaternya. Formatnya dialog santai, jadi nggak bikin pusing, tapi setiap kalimatnya kerasa dekat banget sama kehidupan sehari-hari.
💡 Why you should read it:
Gaya tulisan ringan ala obrolan santai.
Mengajarkan kalau emosi sedih/lelah itu wajar dan gak perlu disembunyikan.
Cocok dibaca pas kamu lagi kena burnout.
📍 Tertarik baca? Save post ini biar gak lupa ya!
Sebagai seseorang yang pernah mengalami burnout dan kesulitan mengungkapkan emosinya, membaca buku "I Want to Die But I Want to Eat Tteokbokki" sangat membuka mata saya. Awalnya saya juga tertipu oleh covernya yang lucu dan menggemaskan, sehingga mengira isi buku ini ringan dan santai seperti komik. Namun, begitu membacanya, saya merasakan kedalaman yang menyentuh hati. Format dialog antara penulis dan psikiater membuat pembacaan terasa ringan tapi sarat makna. Buku ini mengajarkan bahwa perasaan sedih, lelah, atau bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu disembunyikan. Melalui percakapan yang jujur, pembaca diajak untuk memahami dan menerima emosi tersebut tanpa merasa bersalah. Saya pribadi merasa sangat terbantu karena buku ini memberikan perspektif bahwa tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja, dan penting bagi kita untuk mencari dukungan. Salah satu bagian yang paling saya ingat adalah bagaimana psikiater memberikan dukungan dengan cara yang sangat manusiawi, bukan hanya dengan saran medis kaku, melainkan dengan perhatian dan simpati yang tulus. Ini mengingatkan saya bahwa dukungan emosional dari orang di sekitar kita bisa membuat perbedaan besar saat menghadapi kesehatan mental. Buku ini juga cocok untuk mereka yang merasa terjebak dalam rutinitas dan tekanan hidup, yang sering kali mengarah pada burnout. Dengan gaya bahasa yang ringan dan dialog yang terasa seperti obrolan sehari-hari, buku ini mudah dicerna dan bisa menjadi teman untuk refleksi diri. Selain itu, buku ini juga mengingatkan saya untuk lebih terbuka terhadap perasaan sendiri dan lebih peka terhadap tanda-tanda kelelahan emosional. Jadi, jika kamu sedang merasa overwhelmed atau butuh pemahaman tentang bagaimana menghadapi emosi negatif, saya sangat merekomendasikan membaca buku ini. Simpan postingan ini sebagai pengingat bahwa kita tidak sendiri dan penting untuk peduli pada kesehatan mental kita dengan cara yang penuh empati dan tanpa menghakimi.




