1. Jadilah orang yang banyak senyum dan jangan jadi orang yang banyak marah.
2. Jadilah orang yang banyak manfaat bagi sesama, dan jangan jadi orang yang banyak mudharatnya.
3. Jauhilah sikap keras hati dalam berdiskusi.
4. Jangan berjalan tanpa keperluan.
5. Jangan tertawa tanpa sesuatu yang benar-benar mengagumkan.
6. Jangan memperolok-olok orang yang bersalah atas kesalahan mereka, tetapi menangislah atas kesalahan kamu sendiri.
Dikutip dari kitab At-Taubah, Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali
اللهم صل على سيدنا محمد و على ال سيدنا محمد
2025/12/8 Diedit ke
... Baca selengkapnyaPas pertama kali baca kisah Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir, aku langsung keinget gambar matahari terbenam di laut dengan siluet perahu yang sering dipakai di konten-konten islami. Ternyata di balik judul "Kisah Nabi Musa Berguru kepada Nabi Khidir" itu, ada banyak pelajaran yang dekat banget dengan kehidupan kita sekarang.
Banyak orang penasaran sama nama penuh Nabi Khidir, seperti apa sosoknya, bahkan sampai cari foto Nabi Khidir di internet. Tapi yang menurutku jauh lebih penting justru adalah mengambil hikmah dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ini. Di antara hikmahnya, kita diajari untuk sabar terhadap takdir Allah, karena nggak semua hal langsung kelihatan alasannya di awal, seperti saat Nabi Musa tidak langsung memahami tindakan-tindakan Nabi Khidir.
Kalau kamu lagi cari kisah lengkap Nabi Khidir dan Nabi Musa, biasanya akan ketemu cerita mereka berdua yang tertulis dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi. Di sana dikisahkan bagaimana Nabi Musa, yang sudah jadi nabi sekaligus pemimpin Bani Israil, tetap mau berguru kepada Nabi Khidir karena ingin mencari ilmu yang belum beliau ketahui. Buat aku pribadi, ini tamparan halus: seberapa pun tinggi ilmu kita, tetap harus rendah hati dan mau belajar dari orang lain.
Dalam beberapa kitab disebutkan perbedaan pandangan ulama soal nama lengkap Nabi Khidir. Ada yang menyebut namanya "Balya bin Malkan", ada yang menyebut nama lain, dan ada juga yang mengatakan yang pasti hanyalah gelarnya: Al-Khidir, yang artinya hijau, karena diriwayatkan beliau pernah duduk di tanah kering lalu tiba-tiba menjadi hijau subur. Dari sini aku belajar, meski kita penasaran dengan detail seperti nama penuh atau rupa beliau, fokus utama tetap pada pesan yang dibawa.
Kalau bicara soal foto Nabi Khidir, penting banget diingat bahwa dalam ajaran Islam kita tidak tahu bagaimana rupa asli para nabi kecuali penjelasan global yang sangat terbatas. Jadi semua gambar yang beredar itu hanya ilustrasi artistik, bukan potret asli. Daripada sibuk mencari gambarnya, menurutku lebih bermanfaat kalau kita menghayati nasihat-nasihat beliau: banyak senyum, menahan marah, tidak meremehkan kesalahan orang lain, dan lebih sibuk menangisi dosa diri sendiri.
Waktu aku coba praktikkan satu saja nasihat Nabi Khidir, yaitu tidak berjalan tanpa keperluan, hidup terasa lebih terarah. Jalan-jalan tanpa tujuan biasanya berujung buang waktu dan kadang membuka pintu maksiat. Dengan membiasakan diri bergerak karena kebutuhan dan niat yang jelas, hari-hari rasanya lebih berkah.
Begitu juga dengan nasihat agar tidak tertawa berlebihan tanpa sesuatu yang benar-benar mengagumkan. Di era media sosial, kita gampang banget tertawa dan bercanda soal apa saja, bahkan yang sensitif. Pas aku mencoba menahan diri, ternyata hati jadi lebih lembut dan mudah tersentuh hal-hal baik, seperti zikir, tilawah, atau kisah para nabi.
Kalau kamu sedang mendalami kisah Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir, cobalah baca pelan-pelan sambil membayangkan diri kita yang sedang diajar langsung oleh seorang guru yang sangat dekat dengan Allah. Bayangkan setiap teguran dan nasihat itu seolah ditujukan ke diri kita. Dari situ, insya Allah kisah ini bukan cuma jadi cerita menarik, tapi benar-benar mengubah cara kita bersikap dalam kehidupan sehari-hari.