Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno, mengusulkan agar dana MBG sebesar Rp15.000 per anak per hari tidak lagi diwujudkan dalam bentuk makanan siap saji, melainkan ditransfer langsung ke rekening orang tua melalui Kartu MBG.
Tujuannya agar keluarga bisa memasak sendiri makanan bergizi yang sesuai kebutuhan anak sekaligus mengurangi persoalan distribusi, makanan terbuang, hingga kualitas yang kerap dipersoalkan.
Saat ini, usulan tersebut masih sebatas wacana dan belum menjadi kebijakan pemerintah.
Jika benar ingin memperbaiki program, yang paling penting bukan hanya cara menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan setiap rupiah benar-benar menghasilkan gizi yang diterima anak.
Transfer tunai memang bisa memberi keleluasaan bagi keluarga, tetapi juga membutuhkan pengawasan agar dana digunakan sesuai tujuan.
Di sisi lain, sistem makanan siap saji juga perlu terus dievaluasi agar lebih efektif, higienis, dan tidak menimbulkan pemborosan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan MBG bukan soal uang masuk ke rekening atau makanan datang ke sekolah,
melainkan apakah anak-anak benar-benar mendapatkan asupan gizi yang layak.
💬 Menurut Anda, mana yang lebih tepat: bantuan tunai langsung ke orang tua atau tetap dalam bentuk makanan siap saji?
7/14 Diedit ke
... Baca selengkapnyaSebagai seorang orang tua yang pernah menerima bantuan program makanan bergizi (MBG) untuk anak saya, saya memahami betapa pentingnya memastikan asupan gizi yang tepat bagi tumbuh kembang anak. Dengan usulan transfer dana sebesar Rp15.000 per hari langsung ke rekening melalui Kartu MBG, saya melihat beberapa keuntungan nyata yang bisa dirasakan.
Pertama, fleksibilitas dalam memilih makanan menjadi lebih besar. Keluarga bisa menyesuaikan menu sesuai kebutuhan anak, misalnya menambah buah-buahan atau variasi sayuran yang mungkin tidak tersedia dalam makanan siap saji. Ini tentu membantu dalam pemenuhan gizi yang lebih optimal dan sesuai kebiasaan lokal.
Namun, saya juga menyadari perlunya pengawasan yang ketat agar dana tersebut benar-benar digunakan untuk membeli bahan makanan bergizi dan bukan hal lain. Pengalaman saya menunjukkan bahwa edukasi tentang nutrisi dan cara memasak sehat juga sangat penting untuk mendukung keberhasilan program ini.
Selain itu, penggantian sistem makanan siap saji dengan transfer tunai bisa mengurangi masalah pemborosan makanan dan distribusi yang kadang kurang tepat sasaran. Saya juga pernah mengalami makanan yang tidak habis di sekolah sehingga terbuang sia-sia.
Namun, tidak semua keluarga memiliki waktu atau kemampuan untuk memasak makanan bergizi setiap hari, terutama bagi orang tua yang bekerja penuh waktu. Oleh karena itu, kombinasi antara program makanan siap saji yang diperbaiki kualitasnya dan opsi transfer tunai bisa menjadi solusi terbaik.
Saat ini, pemikiran saya adalah bahwa perbaikan program MBG harus berfokus pada hasil akhir, yaitu apakah anak-anak benar-benar menerima nutrisi yang cukup dan seimbang. Perubahan metode penyaluran dana harus didukung dengan pelatihan dan pendampingan bagi keluarga agar dana dimanfaatkan sebaik mungkin demi kesehatan anak.