angin......
angin itu berhembus pelan,perlahan dengan sentuhannya menggugurkan daun-daun yang mulai menguning.menyibakkan sedikit luka-luka yg perih di balik kokohnya pepohonan yang tumbuh di akarnya
.ketika hujan turunpun angin membawanya sampai ke cahaya mentari dan menciptakan warna" indah kehidupan,menyuguhkan ciptaan Allah,melengkungkan harapan yg beragam sampai menyilaukan mata memandang.......
angin selalu mencoba menyejukkan hati dan jiwa" yg rapuh dalam pelukan sunyi ..namun ketika angin mulai lelah tak ada sedikitpun kehangatan yg menemaninya ...
kerinduan akan pelukan oleh sayap kupu" 🦋 dan sentuhan warna cinta ❤️ yg terpadu ...
namun angin tak dapat merasainya ...dia menyerah akan ego dan remuk dalam diam ....bahagianya yg dulu di sebar dalam senyuman manis yg terbungkus harapan kini Meluah jadi resah ...
bukan tak mau tapi angin lelah untuk memuja setia ... terpaan dan sentuhan harapan dari tangan" makhluk yang tegas dengan pemikiran,madu dalam sentuhan pertama...tapi ketika ego beradu di atas terpaan sinar rembulan tetap saja menyuguhkan luka bahkan melukai batu kerikil yang tertata rapi dalam Sukma kerinduan....
angin...di balik lembutmu tetap jagalah buliran di ujung kelopak matamu....agar tidak ada tetes embun yg mengalir di pagii harimu tetaplaa manja di ayunan sinar mentari pagii ...dan peluklah senja di peraduan malam.....
walau selalu kalah dengan sinar rembulan dan Kerlip bintang. . namun sejukmu tetap di mimpikan malam yg sendu.....
byRuhee🤍
Angin selalu menjadi simbol yang kaya makna dalam literatur dan kehidupan sehari-hari, terutama dalam budaya Indonesia yang penuh dengan nuansa alam dan spiritualitas. Dalam puisi ini, sang penulis dengan indah menggambarkan angin sebagai elemen yang tidak hanya membawa perubahan fisik, seperti menggugurkan daun-daun dan membasahi bumi, tetapi juga sebagai lambang emosi dan perasaan manusia. Seiring angin berhembus pelan dan menyentuh pepohonan yang kokoh, ia juga merepresentasikan perjalanan emosi yang kompleks—dari ketenangan, kerinduan, hingga kelelahan batin. Angin yang membawa hujan ke cahaya mentari juga mencerminkan bagaimana kesulitan dan harapan bersatu menciptakan keindahan dalam kehidupan, melengkungkan harapan yang beragam seperti pelangi setelah hujan. Kehadiran simbol kupu-kupu dan warna cinta dalam puisi ini menambah kedalaman makna, mengekspresikan keinginan untuk pelukan dan kasih sayang yang mungkin tidak bisa dirasakan oleh angin itu sendiri. Ini menggambarkan konflik batin antara ego dan ketulusan, antara harapan yang manis dan kenyataan yang terkadang menyakitkan. Sang penulis juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kelembutan dan keindahan hati—seperti buliran embun di ujung kelopak mata—meskipun sering kali kalah oleh kerasnya kehidupan yang digambarkan lewat sinar rembulan dan kerlip bintang di malam yang sendu. Puisi ini juga mengajak pembaca untuk merenungkan keberadaan angin sebagai metafora kehidupan yang penuh liku dan warna, dimana tiap hembusan dapat menyentuh jiwa yang rapuh dan membawa sejuk di waktu-waktu sulit. Melalui bahasa yang penuh perasaan dan visual yang kuat, pembaca diajak untuk membuka hati dan mensyukuri setiap warna dan harapan yang tercipta dalam hidup, meski terkadang datangnya luka dan kesunyian. Secara keseluruhan, angin dalam puisi ini bukan hanya fenomena alam, melainkan simbol dari dinamika emosi dan spiritualitas manusia. Dengan gaya UGC yang autentik dan personal, puisi ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi siapa saja yang mencari kedamaian dan makna dalam kehidupan sehari-hari.











