#DiaryHariIni kemarin aku nyoba bikin yoghurt yang kedua kalinya.
Setelah percobaan pertama gagal 🥹 #PernahRugi akhirnya di percobaan kedua ini berhasil yeaayyy👐🏻🥳🥳🥳
Ternyata kesalahan di percobaan pertama itu garagara susu yang aku panaskan itu terlalu tinggi suhunya ( susunya jadi pecah) 🥹🥲, dan hasil akhir yoghurrnya pun jadi pecah.
Di percobaan kedua ini aku belajar dr yang pertama.
Resep dan cara pembuatannya udh aku tulisin yaaa.
Ohyaaa, kalau mau bikin greek yoghurt, hasil yoghurt inj bisa disarinh yaa pakai kain bersih, jadi lebih padat.
Kalau hasil mau lebih asam bisa lebih lama fermentasinya.
... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali cari cara bikin yoghurt homemade, aku juga bingung soal biang yogurt itu apa, belinya di mana, sampai susu apa yang cocok. Setelah beberapa kali coba, menurutku kunci suksesnya ada di pemilihan susu untuk membuat yogurt, biang yoghurt yang tepat, sama cara fermentasinya.
Untuk susu, aku biasanya pakai susu UHT full cream 1 liter. Kenapa UHT? Karena sudah steril, jadi proses fermentasi yoghurt dalam toples lebih gampang dan minim gagal. Hindari susu yang sudah ditambah perisa atau gula terlalu banyak, soalnya bisa ganggu kerja bakteri baiknya. Kalau mau lebih creamy, kadang aku campur susu UHT full cream dengan sedikit susu bubuk biar hasil yoghurt lebih kental.
Nah, soal biang yogurt, ini sebenarnya yoghurt plain yang masih mengandung live culture (bakteri hidup). Aku biasanya baca komposisi di belakang kemasan, pastikan tertulis ‘live culture’ atau nama bakteri seperti Lactobacillus. Biang yogurt bisa dibeli di supermarket, bagian chilled (dekat susu dan yoghurt kemasan). Pilih yang plain, yang plain ini penting banget, jangan yang rasa buah atau yang sudah banyak tambahan gula. Dari 1 cup kecil yoghurt plain ini bisa dipakai untuk bikin yoghurt 1 liter, bahkan nanti bisa disisihkan sedikit untuk jadi yogurt biang di batch berikutnya.
Prosesnya simpel: susu UHT dipanaskan dulu sampai hangat suam-suam kuku (jangan sampai mendidih biar susunya nggak pecah). Setelah agak hangat, baru campur dengan biang yoghurt, aduk rata, lalu tuang ke dalam toples kaca yang bersih dan kering. Fermentasi yoghurt dalam toples ini aku simpan di tempat yang hangat, misalnya di dalam oven yang dimatikan atau di sudut dapur yang nggak kena angin. Biasanya aku diamkan 8–12 jam, tergantung mau seberapa asam. Makin lama, rasa yoghurt makin asam dan teksturnya cenderung lebih kental.
Kalau pengin yoghurt ala greek, hasil yoghurt bisa disaring pakai kain bersih atau kain tipis (seperti kain saringan tahu). Tinggal taruh yoghurt di atas saringan, biarkan whey-nya menetes. Yang tertinggal di kain itu yoghurt lebih padat, enak banget buat dessert atau dimakan bareng buah. Kalau suka bottled yoghurt, aku biasanya tuang yoghurt yang sudah jadi ke botol-botol kecil, lalu simpan di kulkas. Tinggal tambah selai buah homemade atau madu, jadi bekal minum anak.
Biar lebih kebayang, sebenarnya gambar proses pembuatan yoghurt itu cuma beberapa langkah: memanaskan susu, mencampur dengan biang, menuang ke toples, lalu mendiamkan sampai set. Setelah berhasil sekali, rasanya nagih banget karena bikin yoghurt sendiri ternyata mudah, lebih hemat, dan kita tahu persis isi di dalamnya.