Setelah lelah mencari bahagia di mana-mana, cobalah kembali pada ajaran leluhur Jawa.
Buku ini berasal dari perenungan panjang atas penderitaan-penderitaan manusia modern. Kita yang maju dalam banyak hal tapi hampa di dalam; amat jarang merasakan ketenangan apalagi kebahagiaan sejati.
Ulasan📗:
Membaca buku ini, wajib sekalian muter lagu Hindia yang Evakuasi. Maka setiap kata-kata yang tersebar di dalamnya, mampu membuatmu merenung lebih lama.
Soal bagaimana cara bersyukur, mencari bahagia dengan cukup dan melakukan semampunya. Sebuah upaya menjaga kewarasan di tengah dunia yang udaranya menyesakkan nafas sepanjang hari.
Berisi wejangan-wejangan lama, yang membuat kita kembali teringat nasihat nenek atau kakek. Sangat hangat dan menyejukkan. Meski tentunya ada juga yang menyayat. Karena menurunkan ego diri sendiri.
Kalian wajib baca juga buku terbitan terbaru Mojok ini!
2025/11/28 Diedit ke
... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali pegang buku "Ajaran Bahagia dari Jawa: Filosofi untuk Hidup Tenang dan Legawa", yang langsung nyantol di kepala aku itu satu: ternyata banyak banget ajaran leluhur Jawa yang relevan sama kegelisahan anak zaman sekarang. Bukan cuma soal "jowo-jowoan", tapi benar-benar filosofi hidup yang bisa dipraktikkan.
Salah satu hal yang kuat banget di buku ini adalah soal legawa. Banyak dari kita mungkin sering dengar kata legawa, tapi nggak benar-benar paham. Setelah kupahami dari contoh-contoh di buku ini, legawa bukan berarti pasrah buta atau nrimo nasib tanpa usaha, tapi lebih ke sadar kalau kita sudah berusaha sebaik mungkin, dan sisanya bukan wilayah kita lagi. Kalau diibaratkan, ya berusaha sekuat tenaga, tapi hati tetap lentur seperti bambu—ini juga nyambung sama bagian buku yang jelasin kenapa orang Jawa sering dianalogikan seperti bambu: kelihatan lembut, tapi kuat dan fleksibel.
Di beberapa bagian, penulis juga menyinggung pepatah dan pitutur Jawa kuno, termasuk yang modelnya mirip dengan "sopo temen bakal tinemu". Intinya, siapa yang benar-benar bersungguh-sungguh, pada akhirnya akan dipertemukan—baik dengan jalan keluar, orang yang tepat, atau versi dirimu yang lebih baik. Kebijaksanaan kayak gini menurutku terasa banget menenangkan, terutama buat yang lagi merasa hidupnya mandek atau serba salah.
Buku ini juga bisa dibilang contoh filosofi yang konkret, bukan teori yang melangit. Misalnya ketika membahas bagaimana cara bersyukur dalam situasi yang nggak ideal. Ada bagian yang mengajak kita untuk melihat hal-hal kecil yang sering luput: bisa istirahat sebentar di tengah hari yang penuh, masih punya teman ngobrol, sampai hal sederhana seperti bisa menghirup udara segar. Dari situ aku jadi sadar, rasa tenang itu kadang muncul bukan karena masalahnya hilang, tapi karena cara pandang kita pelan-pelan berubah.
Kalau kamu tertarik sama filosofi Jawa Tengah atau hal-hal yang berbau kata bijak Ronggowarsito dan pitutur nenek-kakek, buku ini berasa seperti versi modernnya. Bahasanya ringan, tapi tetap pekat dengan nilai. Aku sendiri bacanya pelan-pelan, sambil beberapa kali berhenti buat merenung. Rasanya seperti diajak ngobrol oleh orang tua yang sabar, yang nggak menggurui tapi pelan-pelan mengarahkan.
Bagian yang paling aku suka adalah benang merah yang penulis tekankan: ajaran bahagia dari Jawa itu bukan soal mengejar hidup sempurna, tapi hidup cukup, eling, dan waspada. Tenang tanpa kehilangan kewaspadaan, legawa tanpa berhenti berusaha. Setelah baca separuh jalan saja, aku sudah merasa kayak ditampar halus—ego pelan-pelan diturunkan, tapi hati justru terasa lebih ringan.
Buat kamu yang lagi mencari filosofi tenang, pengin belajar legawa, atau sekadar penasaran sama cara pandang orang Jawa terhadap hidup, "Ajaran Bahagia dari Jawa" ini benar-benar worth it buat dibaca. Apalagi kalau diselingi lagu yang menenangkan, pengalaman membacanya jadi semacam momen refleksi pribadi yang jarang kita kasih ke diri sendiri.