Lingkaran yang ingin ku putus
tgl 19 Juni 2026
Hari ini aku kembali mengambil rapor anakku.
Entah kenapa, setiap kali memegang buku rapor itu, aku selalu seperti ditarik kembali ke masa kecilku.
Masa ketika aku hanya seorang anak yang menunggu.
Menunggu seseorang datang.
Menunggu seseorang melihat hasil kerja kerasku.
Menunggu seseorang bangga padaku.
Aku masih ingat bagaimana aku belajar lebih giat dari teman-temanku. Aku berusaha menjadi juara. Dalam pikiranku yang masih kecil, mungkin jika aku cukup berprestasi, orang tuaku akan datang mengambil raporku sendiri.
Tapi ternyata hidup tidak berjalan seperti yang kubayangkan.
Kesibukan mereka lebih besar daripada keinginanku untuk ditemani.
Berkali-kali raporku diambil orang lain.
Berkali-kali aku pulang membawa kebanggaan yang tidak sempat kubagikan kepada siapa pun.
Dan tanpa kusadari, aku tumbuh menjadi seseorang yang terus mencari perhatian yang dulu tidak sempat kudapatkan.
Aku haus akan kasih sayang.
Aku haus akan pengakuan.
Aku haus akan perasaan dipilih.
Mungkin karena sejak usia lima tahun, aku sudah harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuaku berpisah.
Hari ini, setelah bertahun-tahun berlalu, aku justru berdiri di titik yang sama.
Aku juga berpisah dengan ayah dari anak-anakku.
Dan untuk pertama kalinya aku merasa takut.
Takut jika luka yang dulu kuterima akan berpindah kepada anakku.
Takut jika kesibukanku, pikiranku, dan luka-lukaku membuat anakku merasakan hal yang sama seperti yang pernah kurasakan.
Karena aku tahu rasanya diabaikan.
Aku tahu rasanya berjuang keras lalu pulang memeluk diri sendiri dalam diam.
Aku tahu rasanya melihat teman-teman dijemput orang tuanya sementara aku hanya bisa berpura-pura baik-baik saja.
Aku tahu rasanya berharap.
Dan aku juga tahu rasanya kecewa.
Yang membuatku semakin tersadar adalah anak pertamaku.
Di usianya sekarang, terkadang ia meminta aku menjemputnya pulang sekolah.
Kadang aku bisa.
Kadang aku tidak bisa.
Ada adik-adiknya yang harus kubawa.
Ada cuaca yang terlalu panas.
Ada keadaan yang tidak selalu memudahkan.
Namun yang membuat dadaku sesak bukanlah itu.
Yang membuatku sesak adalah kesadaran bahwa selama ini aku terlalu sibuk mencari cinta yang hilang dari masa laluku, sampai hampir lupa bahwa ada seorang anak yang sedang membutuhkan cintaku hari ini.
Aku tidak ingin kehilangan dia.
Aku tidak ingin suatu hari nanti dia tumbuh dengan luka yang sama.
Aku tidak ingin dia harus bekerja keras hanya untuk merasa dicintai.
Aku tidak ingin dia menghabiskan hidupnya mencari validasi seperti yang kulakukan selama ini.
Karena itulah hari ini aku membuat janji pada diriku sendiri.
Aku mungkin tidak bisa mengubah masa kecilku.
Aku mungkin tidak bisa mengulang semua momen yang sudah berlalu.
Aku mungkin tidak akan pernah mendapatkan semua yang dulu kuharapkan dari orang tuaku.
Tapi aku bisa memilih apa yang akan kuberikan kepada anakku.
Aku memilih untuk hadir.
Aku memilih untuk mendengar.
Aku memilih untuk memeluk.
Aku memilih untuk menjadi tempat pulang yang dulu tidak sempat kumiliki.
Dan jika suatu hari papa atau mama membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa aku tidak sedang marah.
Masih ada bagian kecil dalam diriku yang hanya ingin kalian tahu bahwa dulu aku juga menunggu.
Aku juga berharap.
Aku juga ingin ditemani.
Aku juga ingin kalian bangga.
Dan hari ini, saat aku belajar menjadi orang tua bagi anakku, aku akhirnya mengerti bahwa luka terbesar dalam hidupku bukan karena kalian tidak mencintaiku.
Melainkan karena aku tidak pernah benar-benar merasakan cinta itu saat paling membutuhkannya.
Semoga anak-anakku tidak perlu menulis cerita yang sama suatu hari nanti.
Karena lingkaran ini akan berhenti di sini.
Padaku.
































Lihat komentar lainnya