MENDING RESIGN ATAU BERTAHAN??
#MendingMana resign atau bertahan ditempat kerja??
kerja diperusahaan baru yang dimana lingkungannya tak begitu toxic,tapi... gajinya kecil dan tak sepadan dengan tenaganya🤧 juga,paling gak suka lagi tidak menyediakan musholla sebagai umat muslim melakukan ibadah.
jadi kalau semisal lembur tidak dikasih waktu untuk istirahat sbentar untuk melakukan ibadah.
Aku sempat lama banget stuck di fase dilema: mending resign atau bertahan? Setiap hari berangkat kerja rasanya campur aduk, di satu sisi lingkungan kantor nggak toxic, teman-teman lumayan baik, tapi di sisi lain gaji kecil dan fasilitas untuk ibadah minim banget. Apalagi kalau lagi lembur, kadang merasa bersalah sama diri sendiri karena nggak bisa ibadah dengan tenang. Yang pertama aku lakukan adalah jujur ke diri sendiri: apa yang sebenarnya bikin aku nggak nyaman? Ternyata bukan cuma soal gaji, tapi juga rasa nggak dihargai sebagai karyawan dan sebagai muslim yang punya kebutuhan ibadah. Kerja di tempat yang nggak menyediakan musholla bikin aku sering numpang sholat di pojokan ruangan atau di tempat seadanya, dan itu lama-lama ngaruh ke mental. Aku coba ngobrol baik-baik sama atasan, tanpa emosi. Aku sampaikan kalau musholla itu penting banget, apalagi untuk yang sering lembur. Kadang perusahaan nggak sadar kalau hal "kecil" kayak gini bisa bikin karyawan merasa lebih dihargai. Jawaban mereka waktu itu masih abu-abu, tapi minimal aku sudah berani speak up. Sambil nunggu perubahan, aku mulai nyusun rencana B. Bukan resign dadakan cuma karena emosi, tapi pelan-pelan update CV, belajar skill baru, dan mulai kirim lamaran ke tempat lain yang fasilitas dan gajinya lebih manusiawi. Di masa galau itu, aku sering pakai resign emoji di chat sama teman sebagai kode betapa pengen cabut, tapi di balik emoji itu sebenarnya ada proses mikir panjang: kalau resign sekarang, apakah keuangan siap? Kalau bertahan, apakah aku masih bisa jaga kesehatan mental dan spiritual? Aku juga bikin list plus-minus: apa saja hal baik dari kantor sekarang, dan apa saja yang bikin nggak betah. Dari situ kelihatan jelas kalau yang bikin nahan cuma suasana yang nggak terlalu toxic, sementara sisi negatifnya lumayan banyak. Kadang kita perlu lihat tulisan nyata di depan mata supaya sadar kalau sudah saatnya ambil keputusan. Kalau kamu lagi di posisi yang sama, menurutku yang paling penting adalah: jangan abaikan nilai diri sendiri. Gaji yang nggak sepadan dan tempat kerja yang nggak mendukung ibadah itu bukan hal sepele. Cari info sebanyak mungkin tentang budaya kerja di perusahaan lain, tanya ke teman yang sudah resign duluan, dan jangan ragu buat pilih diri sendiri. Pada akhirnya, keputusan resign atau bertahan memang balik lagi ke kondisi masing-masing. Tapi jangan sampai bertahan cuma karena takut keluar dari zona nyaman, atau resign cuma karena lagi emosi sesaat. Ambil waktu buat mikir, doa, dan diskusi sama orang yang kamu percaya. Dilema "mending resign atau bertahan" itu wajar, tapi yang penting kita pelan-pelan bergerak ke arah yang lebih baik buat hidup dan ibadah kita.

Yay or nay sih kak, kalo kakaknya sudah mendapatkan pengganti pekerjaan sesuai yang kakak inginkan, resign boleh. Tpi kalo kakak belum dapat penggantinya baiknya bertahan dulu aja kak sampai dapat pekerjaan baru yang sesuai harapan kakak 🥰