JUJUR DEH AKU IRT 27+ YANG GA PERNAH IZININ SUAMI IKUTAN PANJAT PINANG ,, 😄 karna resiko nya gede bgt.
Memang umur itu ga ada yang yang tau kecuali Allah SWT ya.
Tapi keselamatan kita juga harus di PRIORITASKAN.
Kalo kamu suka ikutan lomba apa? setelah jadi IRT??
2025/8/18 Diedit ke
... Baca selengkapnyaSetelah aku baca-baca berita soal "perlombaan 17 Agustus yang menelan korban jiwa", aku makin mikir dua kali buat izinin suami atau keluarga ikut lomba yang ekstrem. Bukan berarti aku anti lomba 17-an ya, justru aku suka banget suasana 17 Agustus. Cuma kalau udah lihat kasus nyata dari panjat pinang, balap karung sampai karnaval, rasanya caca fix serem.
Panjat pinang itu kelihatannya seru dan heboh, apalagi kalau hadiahnya banyak. Tapi di balik itu, risikonya gede banget: jatuh dari ketinggian, ketiban teman, sampai kepala kebentur tanah atau tiang. Di beberapa berita yang aku lihat, ada kasus Bapak Mulyono di Brebes dan juga warga Bandung yang meninggal setelah ikut panjat pinang. Biasanya masalahnya karena kelelahan, jatuh parah, atau ada penyakit bawaan yang kambuh karena dipaksa ikut lomba.
Balap karung juga ternyata nggak sesimpel yang kita kira. Aku dulu waktu kecil sering ikut, tapi makin gede baru sadar, lari sambil kaki diikat karung itu mudah banget bikin jatuh kepala duluan. Di gambar yang aku lihat, ada kasus Ibu Rini dan seorang IRT di Jambi yang meninggal saat balap karung, diduga karena jatuh parah dan serangan jantung. Jadi bukan cuma bocel yang bahaya, orang dewasa juga berisiko apalagi kalau jarang olahraga.
Karnaval 17 Agustus pun nggak kalah ngeri. Biasanya kan ada truk dihias, mesin diesel, sound system gede, dan orang berdesakan di jalan. Di salah satu contoh kasus, ada peserta yang kebentur mesin sampai meninggal, dan warga Tulungagung yang kena serangan jantung saat karnaval. Capek, panas, desak-desakan, plus mungkin kurang minum, jadi pemicu juga.
Sebagai IRT, aku sekarang lebih milih lomba yang masih seru tapi resikonya lebih kecil. Misalnya lomba makeup, masak, estafet bawa kelereng, lomba makan kerupuk (asal jangan dorong-dorongan), atau games sederhana di rumah RW. Suami dan anak pun kalau mau ikut lomba fisik, aku biasanya ingetin panitia: tolong sedia P3K, pastikan ada petugas kesehatan, batasi peserta yang punya riwayat penyakit berat, dan jangan paksain lomba kalau lapangan becek atau licin.
Menurutku, semangat 17 Agustus itu bukan harus yang ekstrem. Yang penting kebersamaannya, rasa syukur, dan serunya kumpul bareng tetangga. Kalau perlombaan 17 Agustus sampai menelan korban jiwa, suasana yang harusnya bahagia malah berubah duka. Jadi sekarang, tiap diajak ikut lomba yang terlalu berisiko, aku cuma bisa bilang dalam hati: caca fix serem, mending cari lomba yang lebih aman tapi tetap bikin ketawa bareng.
Kalau kamu setelah jadi IRT atau sudah berkeluarga, masih berani ikut panjat pinang, balap karung, atau karnaval yang rame banget? Atau sama kayak aku, mulai milih-milih lomba yang lebih ramah jiwa dan raga?
sebenernya diri kita sendiri yang tau soal kondisi tubuh. tapi terkadang ada yang memaksa padahal punya keterbatasan fisik dan tenaga. ada juga yang sudah takdir
harus sadar dengan kondisi tubuh sih sebenarnya menurutku ya kak..