KISAH KAMARUDDIN SIMANJUNTAK DAN FERDY SAMBO MEMILIH DEKAT SAMA TUHAN
Hidup sering membawa manusia ke jalan yang tak pernah dibayangkan. Itulah yang kini sedang dijalani Kamaruddin Simanjuntak dan Ferdy Sambo. Dua sosok yang dulu berseberangan di ruang sidang kasus Brigadir J, kini sama-sama memilih bersandar pada satu kekuatan yang sama: Tuhan Yesus.
Perjalanan mereka berbeda. Satu sedang melawan sakit, satu lagi menjalani masa pidana. Tapi di tengah keterbatasan itu, keduanya menemukan ketenangan dengan menjadikan Tuhan sebagai andalan.
*Ferdy Sambo: Menimba Ilmu Teologi dan Melayani di Lapas Cibinong*
Di Lapas Kelas IIA Cibinong, Jawa Barat, Ferdy Sambo mengisi hari-harinya dengan belajar dan melayani. Ia mengikuti program magister teologi di Sekolah Tinggi Teologi Global Glow Indonesia, program yang memang dibuka untuk warga binaan sejak 2020.
Tak hanya kuliah, Ferdy juga aktif dalam pembinaan rohani. Pada Desember 2025, ia berdiri di mimbar Gereja Oikumene Terang Dunia yang berada di dalam lapas. Dengan tema “Unchained: A New Creation”, ia menyampaikan pesan harapan bagi sesama warga binaan.
Bagi Ferdy, waktu di balik jeruji bukan akhir dari segalanya. Di sanalah ia belajar menyerahkan hidup sepenuhnya pada Tuhan Yesus, sebagai andalan yang memberi kekuatan di tengah keterbatasan.
*Kamaruddin Simanjuntak: Dari Sakit Menuju Hidup Baru Bersama Tuhan*
Di sisi lain, Kamaruddin Simanjuntak sedang menjalani pergumulan kesehatan. Kondisinya yang menurun terlihat dari beberapa foto dan video yang beredar. Ia tampak lemah, namun tetap dikelilingi orang-orang terdekat yang setia mendampingi.
Di tengah proses itu, muncul nama baru yang ia gunakan: Khaleb. Nama itu disampaikan langsung oleh kerabatnya dalam video yang viral, sebagai simbol awal yang baru.
“Pak Kamaruddin semakin hari semakin sehat, semakin segar, Puji Tuhan. Kabar-kabar yang dulu menyatakan dia meninggal, penyakitnya lah yang meninggal. Sekarang sudah hidup baru ya pak Kamaruddin,” ujar salah satu temannya.
Bagi Kamaruddin, sakit menjadi pengingat bahwa manusia tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri. Ia memilih bersandar pada Tuhan Yesus, memohon kesembuhan dan kekuatan untuk menjalani hari.
Doa dan dukungan dari masyarakat terus mengalir. Banyak yang percaya bahwa di balik kelemahan fisik, ada iman yang sedang dikuatkan.
*Dua Anak Manusia, Satu Andalan*
Ferdy Sambo dan Kamaruddin Simanjuntak kini berada di dua tempat berbeda. Satu di dalam lapas, satu lagi di tempat perawatan. Tapi keduanya memiliki satu titik temu: menjadikan Tuhan Yesus sebagai andalan hidup.
Kisah mereka menjadi pengingat bahwa tidak ada posisi, jabatan, atau kondisi yang membuat seseorang jauh dari kasih Tuhan. Justru di saat manusia merasa paling lemah, di situlah Tuhan bekerja paling nyata.
Dari ruang sidang yang panas hingga ruang hening pergumulan pribadi, keduanya membuktikan bahwa hidup baru selalu mungkin dimulai ketika manusia memilih bersandar pada Tuhan Yesus.
_Penulis: Sabar M. Sitompul
Wartawan Harian Sidaknews Sumatera Utara_
Kisah Kamaruddin Simanjuntak dan Ferdy Sambo mengingatkan kita bahwa kekuatan iman bisa hadir di saat-saat paling sulit dalam hidup. Saya pernah mengalami masa sulit dan menemukan ketenangan yang serupa lewat pendekatan spiritual. Ketika menghadapi rintangan yang tampaknya tak teratasi, berpegang pada keyakinan pada Tuhan memberikan kekuatan batin yang luar biasa untuk terus melangkah. Mirip dengan Ferdy Sambo yang menimba ilmu teologi di lapas, proses belajar dan beribadah di tengah keterbatasan bisa membuka jalan baru bagi pertumbuhan pribadi. Pendidikan rohani tidak hanya soal teori, tetapi juga pengalaman hidup yang membentuk karakter dan membangkitkan harapan. Program seperti yang diikuti Ferdy penting agar warga binaan bisa mengisi waktu dengan hal positif dan membangun masa depan. Sementara itu, kisah Kamaruddin menunjukkan bahwa sakit dan pergumulan fisik sering kali menjadi momen refleksi dan pengingat nyata bahwa kita tidak boleh mengandalkan kekuatan sendiri. Membuka hati untuk bersandar pada Tuhan dapat memberikan ketenangan dan kekuatan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan itu dengan penuh iman. Penggantian nama menjadi Khaleb adalah simbol transformasi, bukti bahwa seseorang bisa memulai babak baru dalam hidup melalui iman. Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga belajar bahwa dukungan dari lingkungan sekitar sangat penting agar proses perubahan dan pemulihan iman bisa berjalan lancar. Doa dan motivasi dari orang lain memberikan semangat tambahan untuk tetap teguh dan tidak menyerah. Kisah dua sosok ini bukan hanya soal perbedaan status atau kondisi, tetapi tentang bagaimana kasih Tuhan bisa menyentuh siapa saja tanpa memandang latar belakang. Ini dibuktikan oleh perjalanan keduanya dari ruang sidang yang penuh tekanan hingga ruang hening pergumulan pribadi yang semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Semoga kisah mereka menginspirasi kita semua untuk tidak pernah lelah mencari kekuatan dan harapan dalam iman, terutama di saat-saat gelap kehidupan.

