16 Dzulhijjah Haul Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf Gresik
Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Umar bin Abu Bakar bin Al-Habib Umar bin Segaf as-Segaf adalah seorang imam di lembah Al-Ahqof. atau juga terkenal sebagai Habib Abu Bakar Gresik, Lahir di Besuki, Situbondo, di masa Hindia Belanda pada tanggal 30 Maret 1869 M | 16 Dzulhijjah 1285 H, adalah seorang tokoh ulama yang menghabiskan masa dakwahnya di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Tahun 1293 H. atas permintaan neneknya yang sholehah Fatimah binti Abdullah (Ibunda ayahnya), beliau merantau ditemani oleh al-Mukaram Muhammad Bazamul ke Hadramaut meninggalkan tanah kelahirannya, Jawa.
Di usia 17 Pada tahun 1302 H. | 1885 M, beliau ditemani oleh Habib Alwi bin Segaf Assegaf, kembali ketanah kelahirannya (Jawa) tepatnya di kampung Besuki. Selanjutnya pada tahun 1305 H, ketika itu berumur 20 tahun beliau pindah ke kota Gresik
Habib Abu Bakar adalah wali qutb di jamannya, maqom ke Qutb beliau pegang kurang lebih 30 tahun, ada yang mengatakan 40 tahun. Menurut cicit beliau yang kebetulan namanya sama dengan beliau yakni Habib Abu Bakar ( pasuruan )
Sewaktu beliau wafat, jasad beliau diarak dari rumah menuju masjid jami gresik dg iringan Qosidah "thola'al Badru" sesuai wasiat beliau. Konon group terbangan pondok PETA yang mengumandangkan qosidah tersebut dipemakaman beliau. Pada tanggal 15 Juli 1957 M | 17 Dzulhijjah 1376 H Indonesia, Gresik
Dimakamkan di Kompleks pemakaman Masjid Agung Jamik Alun-Alun Kota Gresik
... Baca selengkapnyaSebagai seorang yang pernah mengunjungi makam serta mengikuti haul Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf di Gresik, saya ingin berbagi pengalaman pribadi dan informasi tambahan terkait sosok beliau.
Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf bukan hanya seorang ulama besar, tetapi juga seorang wali qutb yang dihormati pada masanya. Dari kisah perjalanan hidupnya yang dimulai dari Besuki, Situbondo, hingga perantauan ke Hadramaut, menunjukkan betapa dalamnya dedikasi beliau dalam menuntut ilmu dan berdakwah. Saya pernah menghadiri haul beliau di Kompleks Pemakaman Masjid Agung Jamik Gresik, dimana suasana spiritual begitu terasa dengan iringan Qosidah "Thola'al Badru." Tradisi ini menjadi pengingat kuat akan perjuangan beliau dalam menyebarkan ajaran Islam di Jawa Timur.
Selain itu, kehadiran para keturunan dan jamaah yang datang setiap tahun pada 16 Dzulhijjah menegaskan pengaruh beliau yang masih hidup dalam ingatan banyak orang. Sebagai wali qutb dengan maqom yang dipegang lebih dari 30 tahun, beliau menjadi teladan dalam keteguhan iman dan kepemimpinan keagamaan.
Dari sisi sejarah, haul ini juga mengingatkan kita akan masa Hindia Belanda dan kondisi sosial saat itu, bagaimana ulama seperti Habib Abu Bakar memberikan pencerahan spiritual ditengah tantangan zaman. Bagi yang ingin mengenal lebih jauh, berziarah ke makam beliau tidak hanya sebagai penghormatan, melainkan juga sebagai momen untuk merenungi nilai-nilai keislaman yang lurus dan semangat dakwah yang tidak kenal lelah.
Melalui haul dan cerita hidup Habib Abu Bakar as-Segaf, saya merasa semakin terdorong untuk melestarikan tradisi ulama dan meneladani sikap religius beliau dalam kehidupan sehari-hari. Semoga informasi ini membantu pembaca lebih memahami dan mengapresiasi warisan keagamaan yang berharga ini.