Mereka yang ditanya dalam kubur, *ingin kesempatan hidup kembali lalu beramal shalih*..
Sedangkan diri ini masih memiliki umur, namun *kurang kesadaran untuk beramal shalih.*
Seringkali kita lupa bahwa kesempatan untuk berbuat kebaikan hanya tersedia selama kita masih hidup. Dari pengalaman pribadi, saya sendiri harus belajar untuk lebih menyadari waktu yang saya miliki dan menggunakan setiap momen untuk beramal shalih. Kesadaran ini tidak datang begitu saja, melainkan melalui refleksi dan perenungan tentang arti kehidupan dan kematian. Saya pernah menyaksikan seorang teman yang sangat aktif beramal sebelum meninggal dunia. Dia selalu mengingatkan saya bahwa setiap kesempatan hidup adalah anugerah yang harus dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan. Pengalaman itu membuat saya semakin termotivasi untuk tidak menunda amal baik, karena tidak ada jaminan kita akan dipanjangkan umur. Selain itu, beramal shalih tidak hanya berarti memberi materi, tapi bisa juga berupa kebaikan sederhana seperti membantu orang lain, menyebarkan ilmu bermanfaat, menjaga hubungan baik keluarga dan sesama. Kebaikan kecil yang konsisten memiliki dampak besar di akhirat. Dalam kehidupan sehari-hari, saya mencoba membuat jadwal untuk mengevaluasi kegiatan dan memastikan bahwa saya menyisipkan waktu untuk amal shalih. Misalnya, berdonasi secara rutin, mengikuti kegiatan sosial, atau sekadar memberikan motivasi dan dukungan kepada orang di sekitar. Sekarang saya yakin bahwa memperbanyak amal shalih selama umur masih diberikan, akan membawa kedamaian batin dan persiapan yang baik untuk kehidupan setelah mati. Jadi, mari manfaatkan setiap kesempatan hidup ini dengan penuh kesadaran dan beramal shalih.