Saya pernah merasakan betapa pentingnya interaksi aktif dalam proses pembelajaran. Dengan benar-benar mendengarkan dan berempati kepada peserta didik, saya menyadari bahwa mereka tidak hanya membutuhkan materi, tetapi juga perasaan dihargai dan didukung. Membangun empati berarti kita sebagai pengajar harus mampu merasakan bagaimana dunia di mata anak-anak, seperti yang diungkapkan dalam kutipan 'lucu ya, kita mendidik anak kecil agar tumbuh menjadi seperti kita, padahal kita diam-diam rindu menjadi anak kecil lagi'. Memahami hal ini membuat saya lebih sabar dan kreatif dalam menyikapi kebutuhan serta perasaan peserta didik. Interaksi aktif juga saya terapkan dengan cara mengajak mereka berdiskusi, memberi kesempatan bertanya, dan mengekspresikan pendapat. Hal ini membangun suasana kelas yang hangat dan penuh kepercayaan. Dari pengalaman ini, saya percaya bahwa empati dan interaksi yang tulus merupakan kunci untuk membantu peserta didik tumbuh secara optimal baik secara akademik maupun emosional.
2025/8/20 Diedit ke