Kadang aku senyum sendiri baca kutipan, "lucu ya, kita mendidik anak kecil agar tumbuh menjadi seperti kita, padahal kita diam-diam rindu menjadi anak kecil lagi". Sebagai guru muda, kalimat itu berasa nyelekit tapi juga bikin hangat. Dari situ aku makin sadar, interaksi aktif dan empati terhadap peserta didik itu bukan cuma soal metode mengajar, tapi juga soal bagaimana kita memposisikan diri sebagai manusia yang sama-sama terus belajar. Interaksi aktif itu buatku bukan sekadar tanya, "paham atau tidak?" lalu lanjut materi. Aku coba lebih sering ngobrol santai sebelum pelajaran dimulai, tanya kabar mereka, apa yang lagi mereka suka, sampai hal receh seperti drama di sekolah atau tren yang lagi viral. Dari obrolan ringan itu, peserta didik jadi lebih terbuka, dan aku lebih gampang masuk saat menyampaikan materi yang sebenarnya berat. Empati juga penting banget. Misalnya, kalau ada peserta didik yang kelihatan bengong atau murung, dulu mungkin aku akan langsung menegur karena dikira tidak fokus. Sekarang aku coba dekati pelan-pelan, ajak bicara empat mata. Ternyata seringkali mereka sedang punya masalah di rumah, atau capek dengan tugas dari beberapa mata pelajaran sekaligus. Di situ aku belajar untuk tidak cepat menghakimi, tapi mendengarkan dulu. Kadang solusi yang mereka butuhkan hanya seorang dewasa yang mau mendengar tanpa menggurui. Hal lain yang aku lakukan untuk membangun interaksi aktif adalah memberi ruang mereka untuk ikut mengatur proses belajar. Misalnya, aku minta mereka memilih model diskusi, presentasi, atau project kecil. Saat mereka dilibatkan, mereka merasa dihargai. Itu cara sederhana menunjukkan empati: mengakui bahwa mereka punya suara dan kebutuhan sendiri. Sebagai generasi yang juga tidak terlalu jauh umurnya, aku berusaha untuk jujur soal perasaan. Aku cerita ke mereka bahwa menjadi orang dewasa itu melelahkan, tapi juga menyenangkan dengan caranya sendiri. Di sisi lain, aku juga mengakui kalau aku sering "diam-diam rindu menjadi anak kecil lagi" seperti di kutipan tadi. Anehnya, saat aku jujur seperti itu, hubungan kami jadi lebih hangat. Mereka melihat gurunya bukan sebagai sosok yang selalu sempurna, tapi manusia yang juga bisa lelah, salah, dan belajar. Menurutku, interaksi aktif dan empati terhadap peserta didik tidak harus selalu yang besar-besar. Hal kecil seperti mengingat nama mereka, memuji usaha meski hasilnya belum maksimal, atau menanyakan pendapat mereka di akhir pelajaran, punya dampak besar pada kepercayaan diri mereka. Lama-lama, kelas jadi terasa seperti ruang aman untuk tumbuh bersama, bukan sekadar tempat mengejar nilai. Pada akhirnya, sambil kita mendidik mereka untuk tumbuh menjadi versi terbaik diri mereka, kita juga pelan-pelan menyembuhkan sisi kecil dalam diri kita yang diam-diam rindu masa kanak-kanak. Dan menurutku, di situlah indahnya jadi guru muda.
2025/8/20 Diedit ke