... Baca selengkapnyaJujur dulu aku tipe yang asal beli salep, pokoknya kalau ada keluhan di kulit langsung ke apotek dan tanya, tapi nggak benar-benar paham bedanya. Setelah beberapa kali coba berbagai macam salep, akhirnya aku mulai pelan-pelan belajar fungsi masing-masing supaya nggak salah pakai.
Pertama, penting banget bedain salep untuk luka dan salep untuk gatal/ruam. Misalnya Bioplacenton biasanya aku pakai untuk luka bakar ringan, luka sayat, atau luka yang agak susah kering. Teksturnya gel dan rasanya agak dingin di kulit. Tapi kalau lukanya sudah parah, bernanah, atau lebar banget, aku selalu tetap ke dokter dulu, jangan cuma mengandalkan salep apotek.
Untuk infeksi bakteri di kulit, seperti bisul kecil, luka yang mulai merah dan ada tanda terinfeksi, atau eksim yang kelihatan bernanah, aku pernah dikasih Genoint (gentamicin). Ini termasuk antibiotik oles, jadi aku usahakan pakainya sesuai aturan, biasanya 3–4 kali sehari dan nggak asal dipakai di semua masalah kulit. Kalau setelah beberapa hari nggak ada perbaikan, aku stop dan konsultasi lagi.
Salep gatal sendiri itu macam-macam. Ada yang isinya steroid ringan seperti Hydrocortisone 1%, yang pernah aku pakai buat ruam alergi ringan dan gatal karena gigitan serangga. Enak sih, cepat mereda gatalnya, tapi aku batasi pemakaian, biasanya cuma 1–2 kali sehari dan nggak lebih dari beberapa hari. Apalagi untuk area wajah atau lipatan kulit, aku lebih hati-hati karena hidrokortison tetap termasuk obat keras jika dipakai sembarangan.
Untuk gatal yang disebabkan alergi atau eksim yang cukup mengganggu, aku pernah coba krim seperti Benoson (betamethasone). Efeknya memang manjur buat meredakan merah dan bengkak, tapi ini steroid yang lebih kuat, jadi benar-benar harus pakai tipis saja dan nggak jangka panjang. Biasanya aku pakai kalau sedang kambuh saja, dan tetap di bawah pengawasan tenaga kesehatan.
Kalau masalahnya karena parasit seperti kudis atau tungau, obatnya beda lagi. Contohnya krim Scabimite yang cara pakainya sekali oles malam, didiamkan beberapa jam, lalu dibilas. Pengalamanku, selain pakai salep, harus juga jaga kebersihan sprei, baju, dan handuk karena tungau bisa menular ke anggota keluarga lain.
Salep untuk virus juga ada, misalnya yang mengandung acyclovir seperti Zoter. Ini biasanya aku lihat dipakai untuk herpes di kulit atau sekitar bibir. Kuncinya, dipakai sedini mungkin saat gejala mulai muncul supaya lebih efektif. Kalau herpes muncul berulang atau di area sensitif, menurutku wajib banget periksa ke dokter.
Dari pengalaman cobain macam-macam salep di apotek, pelajaran pentingnya: jangan tertukar antara salep gatal biasa dengan salep antibiotik atau salep steroid. Selalu baca komposisi dan aturan pakai di kotaknya, dan kalau ragu, tanyakan ke apoteker. Kulit setiap orang beda-beda, jadi apa yang cocok di aku belum tentu cocok di kamu. Kalau keluhan nggak membaik setelah beberapa hari pakai salep, sebaiknya segera periksa ke dokter supaya dapat penanganan yang lebih tepat.