... Baca selengkapnyaSebagai sesama ‘penghuni pace 1’, aku lumayan sering dilema: mau lanjut lari tapi minder karena pace kecil, atau udahan aja dan becandain diri sendiri, “ini mah pace motor, bukan pace lari.” Apalagi kalau habis lihat orang-orang di Strava atau IG yang pace-nya 6, 5, bahkan 4, rasanya langsung pengen uninstall aplikasi.
Tapi makin ke sini aku sadar, istilah penghuni pace 1 itu sebenarnya lucu-lucuan aja. Pace 1 dunia versi medsos tuh sering jadi bahan bercandaan buat orang-orang yang larinya masih pelan, sering jalan, atau baru mulai. Padahal kalau dipikir-pikir, kita tetap maju selangkah lebih jauh dari versi diri kita yang dulu cuma rebahan.
Aku pernah ikut lari santai, jarak cuma 3–5 km, tapi dari awal sampai akhir isinya overthinking: “Duh, malu banget pace segini, yang lain pada kenceng.” Padahal kalau dilihat lagi, yang tahu datanya ya cuma aku. Orang lain sibuk sama napas dan kakinya sendiri. Dari situ aku mulai coba ubah sudut pandang: posting aja berapapun pace-nya, kayak tulisan di poster Urban Republic itu. Toh itu perjalanan pribadi, bukan kompetisi tiap hari.
Aku juga ngerasain kok yang ditulis di poster: “Jangan liat pace-nya tapi liat effortnya.” Kadang 1 km di hari badan capek itu jauh lebih berat daripada 5 km di hari lagi fit. Jadi daripada fokus ke angka, aku mulai tanya ke diri sendiri: hari ini aku sudah usaha maksimal belum? Udah keluar rumah, udah ganti baju olahraga, udah lari meski cuma sebentar — itu semua effort yang layak diapresiasi.
Masalah hati juga sering kebawa. Tulisan “yang patah hatinya yang disiksa kakinya, alasannya bakar kalori padahal bakar memori” itu relate banget. Banyak dari kita lari awalnya karena lagi patah hati, cari pelarian, cari kegiatan baru. Di titik itu, lari pelan atau cepat nggak sepenting fungsi lari sebagai tempat healing. Selama rasa sakit di kaki pelan-pelan bisa ngalahin rasa sakit di hati, berarti tujuan larinya tercapai.
Buat kamu yang ngerasa penghuni pace 1 dunia, coba nikmatin momen-momen kecil: angin pagi, sepi jalanan, atau sunset kalau lari sore. Nggak perlu nunggu jago baru berani posting, kayak tulisan di poster: posting aja berapapun pace-nya. Yang penting konsisten. Lama-lama, tanpa sadar, pace bisa turun pelan-pelan.
Intinya, jadi penghuni pace 1 itu nggak masalah sama sekali. Semua pelari pernah mulai dari nol. Terus berlarilah, entah itu lari beneran atau lari-lari kecil yang diselingi jalan. Suatu saat nanti, kamu bakal lihat ke belakang dan sadar: ternyata versi ‘penghuni pace 1’ ini yang paling kuat, karena dia tetap jalan meski sering diremehin — termasuk sama dirinya sendiri.