Food FlogerPemula
#TentangKehidupan Sebagai Food Floger Pemula, tentu ada banyak berbagai macam tantangan yang aku hadapi, seperti contoh
1. Sering di pandang sebelah mata oleh pedagang karna saat kita ijin untuk take video terkadang ada beberapa mimik muka yang kurang berkenan walaupun mereka tetap menyetujui aku take video
2. Sering dianggap orang disekitar kita sebagai pemborosan karena sering post video kita sedang makan-makan
3. Tetap berperilaku profesional saat ada endors dan harua visit store, pernah beberapa kali sakit tp harua tetap terlihat ceria didepan Camera
Tetapi semua hal itu sirna saat ada pedagang yang menghungi dan berterimakasih krn video nya fyp dan pembeli semakin banyak.. dan tentunya karena cuan dr Endors yg bikin semangat..
Kalo kalian adakah yang sama seperti aku sebagai Food Floger pemula? Ceritan dong pengalaman nya apakah sama? 🥰🥰 #TentangKehidupan #DigitalDiary #TipsLemon8 #ViralTerbaru
Waktu pertama kali mulai, aku sendiri sempat bingung: sebenarnya flogger adalah apa sih? Banyak yang tahunya blogger atau vlogger, padahal food flogger itu lebih ke orang yang rutin review makanan, kopi, atau tempat makan, lalu dibagikan di media sosial lewat foto dan video. Jadi kalau kamu suka hunting kuliner, foto-foto makanan, bikin konten di cafe kayak di Banaran Coffee and Tea, bisa banget disebut food flogger. Banyak juga yang nanya: perbedaan food flogger dan food vlogger apa? Jujur di dunia nyata, orang sering campur aduk istilahnya. Intinya, kita bikin konten seputar makanan: review rasa, harga, suasana, dan pengalaman makan di satu tempat. Bentuk kontennya bisa vlog video panjang, video pendek, atau bahkan foto dengan caption panjang. Yang penting ada cerita dan review jujurnya. Sebagai foodfloger pemula, aku mulai dari hal simpel: pakai HP biasa, nggak ada mic, cuma modal niat. Aku sering mampir ke kafe atau warung, pesan 1–2 menu, lalu pelan-pelan belajar ambil angle yang bagus. Misalnya kalau lagi di coffee shop, aku suka ambil detail minuman es, kopi panas di meja kayu, sama suasana restonya. Caption-nya aku tulis jujur: mana yang enak, mana yang biasa saja, biar yang nonton merasa terbantu. Soal izin take video ke pedagang, ini juga sempat bikin grogi. Tips dari aku: selalu sapa dulu, senyum, dan jelaskan pelan, "Kak, aku suka bikin konten makanan. Boleh nggak kalau aku videoin makanannya?" Kadang memang ada pedagang yang mimiknya kaku atau ragu, tapi selama kita sopan dan nggak ganggu, biasanya mereka luluh. Apalagi kalau kita tunjukkan contoh video di HP biar mereka yakin. Banyak orang sekitar mengira food flogger itu kerjaannya cuma makan dan buang-buang uang. Padahal di balik satu video, ada waktu edit, riset tempat, ongkos jalan, dan capek juga. Tapi pelan-pelan, ketika mulai ada hasil—misalnya ada pedagang yang DM bilang penjualan naik setelah videonya FYP, atau mulai ada endorsan yang bayar visit store—baru deh orang-orang sekitar pelan-pelan paham kalau ini juga bisa jadi kerjaan serius. Kalau kamu baru mau mulai, saran aku: jangan kebanyakan mikir soal alat. Fokus dulu bangun keberanian di depan kamera dan konsisten upload. Ceritakan pengalamanmu apa adanya, dari sudut pandang jujur sebagai konsumen. Lama-lama, kamu bakal nemu gaya sendiri sebagai food flogger dan ngerti kenapa profesi ini makin dicari di era digital sekarang.

