Nasehat Bagian 12
Kalimat, "Manfaatkanlah waktu luangmu untuk mendidik dirimu sendiri sebelum engkau mendidik orang lain" itu kelihatannya sederhana, tapi waktu aku coba praktikkan, rasanya berat juga. Dulu, setiap ada waktu senggang, aku hampir selalu pakai buat scroll media sosial atau nonton apa saja yang lewat. Sampai di satu titik aku sadar, waktu habis tapi diriku sendiri tidak banyak berubah. Pelan‑pelan aku mulai belajar kasih ‘nilai’ ke waktu luang. Misalnya, saat pulang kerja atau kuliah, biasanya ada jeda 30 menit sampai 1 jam. Dulu pasti langsung rebahan sambil pegang HP. Sekarang aku coba ganti sebagian waktunya dengan hal kecil untuk mendidik diri: baca beberapa halaman buku, dengerin kajian singkat, nulis jurnal, atau sekadar merenung tentang apa saja yang bisa aku perbaiki hari itu. Ternyata, perubahan kecil itu lama‑lama kerasa banget efeknya. Nasehat bijak untuk diri sendiri memang kadang terasa menohok, terutama nasehat tentang waktu. Waktu itu tidak kelihatan, tapi diam‑diam pergi dan tidak kembali. Aku pernah bandingkan: satu minggu saat aku pakai waktu luang cuma buat hiburan, dan satu minggu saat aku niatkan untuk belajar sesuatu yang bermanfaat. Bedanya terasa di rasa tenang dan percaya diriku sendiri. Saat aku isi waktu dengan hal baik, aku jadi lebih berani menasehati orang lain, karena setidaknya aku sedang berusaha mempraktikkan dulu. Hal lain yang aku pelajari: nasehat untuk diri sendiri itu bukan berarti harus langsung jadi sempurna. Menjaga konsistensi jauh lebih penting daripada langsung ekstrem. Misalnya, cukup target 10–15 menit sehari untuk belajar atau muhasabah diri. Bisa lewat menulis syukur harian, menghafal satu dua ayat, atau belajar skill baru yang bermanfaat. Yang penting, waktu luang tidak dibiarkan kosong tanpa arah. Kadang, orang suka lebih mudah menyusun nasehat bijak untuk orang lain daripada untuk dirinya sendiri. Padahal, kualitas nasehat kita ke orang lain sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kita mendidik diri. Saat kita sendiri sedang berjuang memperbaiki diri, kalimat nasehat jadi terasa lebih tulus dan tidak menggurui. Kita jadi lebih paham rasanya jatuh, bangkit, malas, lalu mencoba lagi. Kalau kamu sering merasa waktumu terbuang percuma, mungkin bisa mulai dengan satu pertanyaan sederhana setiap malam: "Hari ini, apa yang sudah kulakukan untuk mendidik diriku sendiri?" Tidak harus jawaban besar, yang penting jujur. Dari situ pelan‑pelan kamu akan terbantu untuk lebih menghargai waktu dan mengarahkan hidup ke hal yang lebih bermakna. Buatku pribadi, nasehat tentang waktu seperti yang ada di gambar itu jadi pengingat harian. Setiap kali mau kebablasan pakai waktu luang, aku ingat bahwa suatu hari nanti aku akan diminta pertanggungjawaban atas bagaimana aku menghabiskan waktuku. Itu bukan untuk menakut‑nakuti, tapi agar aku tidak menyepelekan menit dan jam yang sekarang masih di tanganku.

Maaf ya tulisan mimin jelek 😄