Nakes, Jika dinas mu selalu b*suk dan rejeki mu selalu kurang. Coba ingat lagi pena siapa saja yang pernah
kamu ambil ?
Sebagai seorang tenaga kesehatan, saya pernah mengalami masa ketika pekerjaan di dinas terasa buntu dan rejeki yang diperoleh terasa kurang memadai. Hal ini seringkali membuat saya bertanya-tanya, apakah penyebabnya hanya faktor eksternal ataukah ada hal lain yang perlu saya evaluasi secara pribadi. Dalam perjalanan saya, saya mulai menyadari pentingnya introspeksi, khususnya mengenai apa yang saya ambil dan kontribusikan dalam pekerjaan saya. Istilah "pena" dalam konteks di artikel ini bagi saya melambangkan tanggung jawab dan komitmen yang kita ambil dalam menjalankan tugas. Ketika saya merasa dinas saya buntu, saya mencoba mengingat kembali setiap keputusan dan kontribusi yang telah saya buat. Apakah saya sudah memberikan yang terbaik? Apakah ada prinsip yang saya kompromikan? Refleksi seperti ini membantu saya memahami bahwa seringkali hambatan yang dihadapi bukan semata tentang lingkungan luar, melainkan bagaimana kita menanggapi dan memperbaiki sikap serta etos kerja kita. Selain itu, saya juga belajar untuk membuka diri dengan rekan sejawat dan berbagi pengalaman tentang tantangan yang dihadapi. Diskusi ini sangat bermanfaat untuk mendapatkan perspektif baru dan menemukan solusi kreatif. Dalam dunia kesehatan, kolaborasi dan komunikasi adalah kunci agar dinas berjalan lancar serta rejeki dalam arti keberkahan dan kesempatan terbuka dengan lebih baik. Saran saya untuk rekan-rekan nakes yang merasa menghadapi situasi serupa, cobalah evaluasi diri dengan jujur dan lakukan perbaikan kecil yang berdampak besar. Ingatlah, keberhasilan bukan hanya soal materi, tetapi juga kedamaian batin dan integritas yang terus dijaga dalam setiap langkah karier. Jangan lupa juga untuk berdoa dan menjaga semangat melayani, karena itu adalah 'pena' terpenting yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya.




































