Qadarullah wa maa sya'a fa'ala 🤍

2025/8/13 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDulu aku sering dengar orang bilang "Qadarullah wa maa sya'a fa'ala", tapi jujur awalnya cuma ikut-ikutan tanpa benar-benar paham artinya. Setelah beberapa ujian hidup datang, baru kerasa banget makna kalimat ini dalam proses belajar ikhlas. Secara sederhana, "Qadarullah" artinya: ini sudah takdir Allah. Sedangkan "wa maa sya'a fa'ala" kurang lebih bermakna: dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan. Jadi saat kita mengucapkan kalimat ini, kita sedang mengakui bahwa semua yang terjadi bukan kebetulan, tapi bagian dari ketetapan Allah yang pasti ada hikmahnya. Aku pribadi biasanya mengucapkan "Qadarullah wa maa sya'a fa'ala" ketika berhadapan dengan hal yang tidak sesuai keinginan: rencana gagal, rezeki tertunda, sakit, kehilangan, atau hal-hal kecil yang bikin kecewa. Bukan berarti dengan mengucapkannya rasa sedih langsung hilang, tapi seperti ada pengingat lembut di hati bahwa aku tidak sedang sendirian; Allah tahu dan Allah yang menakdirkan. Kalimat ini juga jadi bagian awal datangnya rasa ikhlas. Di gambar yang aku share tertulis, "IKHLAS DI HATIMU tidak datang secara langsung. Ada fase terpaksa, tersiksa, kemudian terima." Dan itu benar banget. Ikhlas itu proses. Kadang mulut duluan yang belajar, baru hati menyusul pelan-pelan. Saat lidah terbiasa berucap "Qadarullah wa maa sya'a fa'ala", lama-lama hati belajar ikut menerima. Buat yang sering tanya: qadarullah itu apa dan diucapkan ketika apa? Dari yang aku pelajari, kalimat ini diucapkan ketika kita menghadapi sesuatu yang sudah terjadi dan tidak bisa diubah, terutama ketika musibah, kegagalan, atau hal yang kurang menyenangkan. Bukan untuk menyalahkan takdir, tapi sebagai bentuk tunduk dan ridha, sambil tetap berusaha memperbaiki keadaan. Aku juga pernah mengalami masa di mana setiap ujian rasanya berat banget, sampai lelah sendiri karena kebanyakan mengeluh. Di fase itu aku mencoba mengganti keluhan dengan dzikir dan doa, termasuk kalimat ini. Alih-alih berkata, "Kenapa sih harus aku?" pelan-pelan diganti dengan "Qadarullah wa maa sya'a fa'ala, pasti ada hikmahnya." Dari sana, hati mulai sedikit lebih ringan. Kalimat di gambar lain juga mengingatkan: "Jangan mengeluh, tapi ringankan lisanmu berucap 'Qadarullah wa maa sya'a fa'ala'." Mengeluh itu manusiawi, tapi kalau kebiasaan, hati makin sempit. Sementara saat kita terbiasa menerima takdir sambil terus berdoa, ada ruang di hati untuk rasa sabar dan harapan. Bahkan tertulis juga, "Teruslah berdo'a sampai matamu melihat apa yang kamu do'akan." Artinya, menerima takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha; kita tetap boleh bermimpi dan berdoa. Aku merasa, belajar makna "Qadarullah wa maa sya'a fa'ala" juga mengubah cara pandang terhadap hidup. Sesuatu yang dulu terlihat seperti kegagalan, ternyata di kemudian hari jadi jalan menuju hal yang lebih baik. Saat menoleh ke belakang, baru terasa, "Oh, ternyata benar, ini semua qadarullah yang terbaik buat aku." Dari situ timbul keyakinan baru: kalau sekarang belum paham alasannya, suatu hari nanti insyaAllah akan terlihat. Buat kamu yang lagi di fase berat, mungkin yang bisa dilakukan sekarang cuma satu: pelan-pelan belajar menerima. Mulai dari lisan, biasakan mengucap "Qadarullah wa maa sya'a fa'ala" setiap kali ada hal yang bikin sesak. Sertai dengan doa yang panjang, curhat ke Allah, minta dikuatkan. Ikhlas memang tidak datang tiba-tiba, tapi bisa tumbuh, sedikit demi sedikit. Dan yang paling menenangkan, kalimat ini mengingatkan bahwa hidup kita bukan tentang seberapa kuat kita mengatur semuanya, tapi seberapa ridha kita saat Allah mengatur hidup kita dengan cara-Nya. Qadarullah bukan sekadar kata-kata, tapi pintu menuju hati yang lebih tenang dan pasrah dengan penuh harap kepada Allah.