Satwa Papua, Burung Kasuari
Di Indonesia Burung Kasuari dapat di temukan hidup di hutan Papua dan maluku khususnya daerah Seram, Kasuari dijuluki dengan nama "PETANI HUTAN"
Aku pertama kali dengar istilah kasuari gelambir ganda waktu lihat poster satwa Papua. Ternyata yang dimaksud itu kasuari selatan (Southern Cassowary) yang punya dua gelambir di lehernya. Kalau dilihat dari dekat, gelambir ganda ini seperti dua lipatan kulit panjang berwarna kebiruan atau kemerahan yang menggantung di leher. Selain bikin penampilan kasuari makin unik, gelambir ini juga diduga berperan dalam komunikasi dan pengaturan suhu tubuh. Kasuari gelambir ganda hidup di hutan hujan tropis Papua dan sebagian Maluku, termasuk daerah seperti Seram. Mereka dijuluki “petani hutan” karena kebiasaannya makan buah-buahan lalu menyebarkan bijinya lewat kotoran. Banyak jenis pohon di hutan Papua yang bijinya bisa tumbuh subur justru karena lewat saluran pencernaan kasuari. Jadi tanpa kasuari, regenerasi hutan bisa terganggu. Buat aku pribadi, ini bikin aku makin sadar kalau satu jenis satwa saja bisa punya peran sebesar itu untuk kelestarian hutan. Ciri fisik kasuari gelambir ganda cukup gampang dikenali: tubuh besar dengan bulu hitam pekat seperti rambut, kepala dan leher berwarna biru keunguan, ada pial merah/oranye, dan yang paling khas, tonjolan keras di kepala yang disebut jambul atau casque. Di lehernya tampak dua gelambir (gelambir ganda) yang membedakannya dari jenis kasuari lain. Kakinya sangat kuat dengan tiga jari, dan satu jarinya punya cakar tajam yang bisa sangat berbahaya kalau merasa terancam. Dari yang aku baca dan tonton di beberapa dokumenter, kasuari sebenarnya pemalu dan cenderung menghindari manusia. Mereka lebih suka berjalan pelan di dalam hutan lebat sambil mencari buah jatuh, tunas muda, jamur, bahkan kadang-kadang serangga atau hewan kecil. Kasuari juga termasuk burung yang tidak bisa terbang, tapi larinya kencang dan jago berenang. Kalau berjalan di hutan Papua, warga lokal biasanya sangat hati-hati dan menghormati jalur pergerakan kasuari. Hal lain yang menurutku menarik, di beberapa daerah, kasuari punya nilai budaya bagi masyarakat adat. Ada yang menganggapnya satwa penting yang harus dijaga, ada juga yang memanfaatkannya secara tradisional tapi dengan aturan adat tertentu supaya populasinya tidak habis. Sekarang, tekanan seperti pembukaan hutan, perburuan, dan hilangnya habitat bikin kasuari gelambir ganda perlu lebih diperhatikan. Kalau kamu tertarik dengan kasuari gelambir ganda, menurutku penting juga untuk paham cara menjaga jarak aman kalau suatu saat bertemu di alam liar. Jangan memberi makan, jangan memprovokasi, dan biarkan mereka tetap liar di habitatnya. Dengan begitu, peran mereka sebagai “petani hutan” di Papua dan Maluku bisa terus berlanjut, dan kita masih bisa berbagi bumi dengan salah satu burung paling unik di dunia ini.










































