"Bukan Soal Kemahnya, tapi....... "

#CurcolanWanita

Katanya guru itu teladan. Ngajarin anak-anak tentang kebersamaan, kerja sama, saling merangkul.

Tapi... aneh ya, waktu semua guru diajak kemah, namaku nggak ada dalam daftar.

Apa mungkin mereka mikir baik?

Karena aku punya anak kecil di rumah.

Kalau iya, terima kasih sudah peduli.

Tapi tahukah kamu... rasa ini berbeda.

Rasa nggak diajak. Rasa seolah nggak penting.

Bukan tentang perjalanannya.

Bukan tentang tenda, api unggun, atau foto-foto.

Ini tentang dianggap ada... atau tidak.

Sakitnya nggak berdarah, tapi perihnya menembus hati.

.......

🍋Pernah nggak kamu ngerasa bukan bagian dari sesuatu yang seharusnya bareng-bareng? Ceritain di kolom komentar.

#curcolguru #ceritaguru #ngajarituperjuangan

2025/8/13 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam dunia pendidikan, peran guru bukan hanya sebagai pengajar tapi juga sebagai teladan dalam kerja sama dan kebersamaan. Namun, pengalaman merasa terpinggirkan atau tidak diikutsertakan dalam aktivitas bersama dapat menimbulkan dampak emosional yang mendalam, seperti yang dialami guru dalam cerita ini. Perasaan tidak diajak dalam acara kemah yang seharusnya menjadi momen mempererat tali persaudaraan sesama guru, menggambarkan adanya perbedaan perlakuan yang tidak kasat mata, atau bahkan 'beda kelas' dalam satu profesi yang sama. Fenomena ini berkaitan erat dengan pentingnya rasa inklusivitas di tempat kerja, terutama dalam bidang pendidikan, dimana setiap guru memiliki tanggung jawab dan kontribusi yang sama besar kepada dunia pendidikan dan anak didik mereka. Perlakuan tidak setara dapat memengaruhi motivasi dan kebahagiaan guru, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja dan kualitas pengajaran. Kondisi seperti ini menuntut pimpinan sekolah dan institusi pendidikan untuk lebih sensitif dan memperhatikan seluruh anggota tim, khususnya dalam mengakomodasi kebutuhan pribadi seperti memiliki anak kecil di rumah, tanpa menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk mengecualikan seseorang dari kegiatan bersama. Memupuk rasa belonging atau merasa menjadi bagian dari kelompok adalah kunci dalam membangun semangat kerja dan solidaritas. Menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan inklusif juga berarti mengakui perasaan setiap individu, termasuk mereka yang mungkin sering tersembunyi atau terabaikan. Ungkapan dalam gambar "KITA SATU PROFESI, RASANYA TAPI BEDA KELAS" menjadi refleksi penting tentang bagaimana persepsi ketidaksetaraan bisa muncul meskipun secara formal semua memiliki status yang sama. Bagi para guru dan tenaga pendidik, pengalaman ini mengajak untuk lebih terbuka dalam berkomunikasi, berbagi perasaan, dan saling mengenal sisi lain masing-masing. Dengan demikian, kebersamaan yang sesungguhnya dapat terwujud, sekaligus memperkuat rasa saling menghargai dan mendukung antar sesama guru. Perasaan 'tidak dianggap' mungkin tidak menimbulkan luka fisik, tapi secara psikologis bisa sangat menyakitkan dan memengaruhi semangat kerja. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dan mengatasi rasa tersebut dengan empati, komunikasi yang baik, dan tindakan nyata agar tidak ada lagi guru yang merasa terpinggirkan dalam lingkungannya.

10 komentar

Gambar Hilda Vegi
Hilda Vegi

aku dulu juga pernh diposisi kk itu, sini peluk dulu, emg gak nyaman kk🥺

Lihat lainnya(1)
Gambar inesrenjana
inesrenjana

pernah banget kak, sakitnya tak berdarah 🥺 pengen postif thiking tp kenapa mereka begitu begini.. meski kita gak diajak krn beberp hal tapi harusnya kan diobrolin tp kenapa ini gak sama skli. Alhasil dugaanku benar bukan pengertian tapi mereka memang menolakku

Lihat lainnya(2)

Lihat komentar lainnya